Oleh Muhammad Saddam, S.E., M.Ak*
ADA satu pertanyaan yang selalu menggelayuti alam pikir saya sejak mendapatkan amanah di Departemen Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan DPP Hidayatullah terlebih ketika diikutsertakan dalam menyusun Peraturan yang terkait dengannya, yaitu pertanyaan tentang “ke mana sebenarnya Perguruan Tinggi Hidayatullah hendak diarahkan?”.
Pertanyaan itu bagi saya sangat penting karena tentu saja identitas PTH tidak cukup dijelaskan hanya karena perguruan tinggi tersebut dimiliki atau diselenggarakan oleh Hidayatullah. Identitas itu juga tidak cukup ditunjukkan melalui keberadaan mata kuliah keislaman, program kaderisasi mahasiswa, halaqah, kegiatan ibadah, ataupun kultur religius di lingkungan kampus. Semua itu penting, tetapi sebuah perguruan tinggi memiliki aktivitas utama yang khas karena di sanalah ilmu dipelajari, diajarkan, diteliti, dikembangkan, dan dipertemukan dengan berbagai persoalan kehidupan. Namun, Perguruan tinggi yang tidak punya arah hanya akan menambah jumlah perguruan tinggi yang sudah sangat banyak hadir di Indonesia dengan segala macam problem yang sedang mereka hadapi.
Maka ketika Hidayatullah dengan Manhaj Sistematika Wahyu-nya memasuki dunia perguruan tinggi di mana ilmu dikaji dan dikembangkan, muncul pertanyaan yang sulit dihindari: apa konsekuensi Manhaj Sistematika Wahyu terhadap aktivitas keilmuan itu sendiri? Apakah ia cukup hadir dalam pembinaan mahasiswa dan beberapa mata kuliah tertentu, sementara bangunan ilmu yang dipelajari diterima sebagaimana adanya? Atau statusnya sebagai manhaj menuntut konsekuensi yang lebih jauh terhadap cara kita memahami, mengembangkan, dan menggunakan ilmu?
Dari Manhaj Sistematika Wahyu Menuju Nalar Tauhid
Sistematika Wahyu tentu tidak dimaksudkan hanya sebagai pengetahuan yang dipelajari dalam kaderisasi. Sebagai manhaj, ia membentuk cara manusia memahami Allah, dirinya sendiri, manusia lain, alam, kehidupan, ilmu, dan tanggung jawabnya dalam kehidupan. Tauhid dengan demikian mempunyai konsekuensi terhadap cara seseorang membaca realitas.
Dalam konteks inilah kita dapat berbicara tentang Nalar Tauhid. Nalar Tauhid adalah cara berpikir yang lahir dari kesadaran tauhid dalam membaca dan memahami realitas. Ia mempengaruhi tentang pertanyaan apa yang kita ajukan, asumsi apa yang kita gunakan, realitas apa yang dianggap penting untuk dipahami, nilai apa yang menjadi pertimbangan, serta untuk tujuan apa pengetahuan dikembangkan dan digunakan. Oleh karenanya Manhaj Sistematika Wahyu tidak berhenti hanya pada membentuk keyakinan tetapi membentuk nalar yang bekerja ketika manusia berhadapan dengan kehidupan.
Dalam konteks pembentukan nalar itulah kita perlu berhati-hati. Konsekuensi tersebut tidak berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai buku teks seluruh disiplin ilmu. Al-Qur’an bukan buku Akuntansi, Manajemen, Fisika, Biologi, Matematika, ataupun Teknologi Informasi. Karena itu, membangun ilmu dalam Nalar Tauhid tidak dilakukan dengan mencari ayat yang dianggap cocok dengan setiap teori atau temuan ilmiah. Cara semacam itu justru berisiko membawa kita pada cocoklogi dan mereduksi kedalaman Al-Qur’an itu sendiri.
Al-Qur’an bekerja pada wilayah yang lebih mendasar. Ia memberi fondasi dalam memahami realitas. Dari sanalah muncul pertanyaan tentang siapa manusia, apa hakikat harta dan kepemilikan, apa yang dimaksud dengan nilai dan kesejahteraan, bagaimana manusia memperlakukan alam, untuk apa organisasi dibangun, untuk apa ilmu dikembangkan, dan untuk apa kehidupan dijalani. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian berhadapan dengan bangunan ilmu yang kita pelajari hari ini. Sebab ilmu, terutama yang berhubungan dengan manusia dan masyarakat, tidak berdiri di ruang hampa. Di dalam teori dapat terkandung asumsi tertentu tentang manusia, perilaku, kepentingan, nilai, organisasi, dan tujuan kehidupan.
Pekerjaan intelektual PTH tentu tidak dimulai dengan menolak seluruh bangunan ilmu yang telah ada. Ilmu pengetahuan hari ini merupakan hasil perjalanan panjang manusia membaca realitas. Banyak teori, metode, teknologi, dan temuan di dalamnya telah teruji dan memberikan manfaat besar bagi kehidupan. Kita justru harus menguasainya dengan sungguh-sungguh. Namun penguasaan itu perlu disertai kemampuan membedakan mana fakta, mana teori, mana asumsi, mana konvensi, dan mana nilai. Dari sinilah Nalar Tauhid memberi keberanian intelektual untuk melakukan kritik dan ketika diperlukan maka harus dilakukan rekonstruksi. Hasil rekonstruksi tersebut pun tidak otomatis benar hanya karena kita merasa telah mendasarkannya pada Al-Qur’an. Karena walaupun mendasarkan pada Al-Qur’an tetap saja itu adalah hasil interpretasi kita sebagai manusia. oleh karenanya ia harus dirumuskan dengan baik, terbuka terhadap kritik, dan diuji melalui metode ilmiah yang sesuai. Sehingga pekerjaan akademik kita setidaknya bergerak melalui empat proses, yaitu: kuasai, kritisi, rekonstruksi, dan uji.
Namun demikian, seperti apa bentuknya ketika prinsip tersebut masuk ke ruang kuliah dan berhadapan dengan disiplin ilmu yang telah mempunyai bangunan teori sendiri? Apakah Nalar Tauhid hanya menambahkan dimensi moral terhadap ilmu yang sudah ada atau ia dapat membawa kita mempertanyakan kembali sebagian konsep yang selama ini kita terima?
Ketika Akuntansi dan Manajemen Dipertanyakan Kembali
Mahasiswa Akuntansi sejak semester pertama mengenal persamaan dasar di mana Aset = Liabilitas + Ekuitas, tidak ada kebutuhan untuk membuat persamaan akuntansi Islami. Mahasiswa PTH tetap harus memahami debit-kredit, jurnal, laporan keuangan, standar akuntansi, audit, perpajakan, dan seluruh kompetensi profesional yang dibutuhkan seorang akuntan.
Namun Nalar Tauhid memungkinkan kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar. Apa yang kita sebut sebagai aset? Apa yang disebut nilai? Apa yang dimaksud dengan laba? Realitas apa yang dianggap penting untuk dilaporkan? Kepada siapa sebuah organisasi mempertanggungjawabkan aktivitasnya?
Sebagai ilustrasi, coba bayangkan sebuah perusahaan menghasilkan laba Rp30 miliar. Pada saat yang sama, laba tersebut lahir dari gaji pegawai yang rendah, aktivitas perusahaan yang menimbulkan kerusakan lingkungan, menurunkan kualitas hidup masyarakat sekitar, atau menghasilkan dampak sosial yang tidak seluruhnya masuk dalam perhitungan perusahaan. Sehingga yang patut ditanyakan kembali adalah apakah angka laba Rp30 miliar telah cukup merepresentasikan nilai yang sesungguhnya dihasilkan perusahaan?
Pertanyaan semacam itu membuka ruang penelitian yang membuat kita berpikir mungkin dibutuhkan konstruk yang berbeda, cara pengukuran yang lebih luas, model pertanggungjawaban baru, bahkan pada titik tertentu teori yang berbeda. Semua itu harus dibangun dan diuji bukan sekadar diberi label Islami.
Hal serupa dapat terjadi dalam ilmu Manajemen. Manusia lazim ditempatkan sebagai human resources yang dikelola untuk mencapai tujuan organisasi secara optimal. Tetapi ketika manusia dipahami sebagai ‘abdullah sekaligus khalifatullah, kita mempunyai dasar untuk mempertanyakan kembali hubungan antara manusia, organisasi, kerja, kepemilikan, kesejahteraan, kepemimpinan, dan amanah. Apakah manusia hadir untuk melayani organisasi, atau organisasi merupakan salah satu instrumen manusia dalam menjalankan amanah kehidupannya?
Pertanyaan seperti ini tidak mengharuskan kita buru-buru menyimpulkan bahwa teori yang ada keliru. Kita perlu memahami kekuatan penjelasannya, menguji bukti empirisnya, dan mengetahui batas berlakunya. Tetapi ketika Nalar Tauhid membawa kita menemukan bagian realitas yang belum cukup dijelaskan, di situlah terbuka ruang untuk mengembangkan pengetahuan. Dengan cara seperti inilah Manhaj Sistematika Wahyu dapat mempunyai konsekuensi terhadap bangunan keilmuan PTH. Tauhid tidak ditempatkan sebagai ornamen di samping ilmu Akuntansi, Manajemen, Pendidikan, Teknologi, dan disiplin lainnya. Ia melahirkan nalar yang bekerja ketika kita mengajukan pertanyaan, memahami realitas, menilai asumsi, mengembangkan konsep, dan menghasilkan pengetahuan.
Tetapi andaipun PTH berhasil melakukan semua itu, pekerjaan kita masih belum selesai. Kita mungkin berhasil menghasilkan konsep, model, bahkan teori baru. Pertanyaannya kemudian adalah untuk apa seluruh ilmu tersebut dibangun? Apakah cukup menjadi artikel jurnal, buku, bahan kuliah, atau diskursus di ruang akademik?. Pertanyaan itu menjadi sangat penting karena Hidayatullah mempunyai pengertian yang konkret tentang peradaban, yaitu manifestasi iman dan keyakinan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Ketika Ilmu Harus Menjadi Peradaban
Jika peradaban adalah manifestasi iman dan keyakinan dalam seluruh aspek kehidupan, maka terdapat hubungan yang seharusnya tidak terputus antara iman dan realitas kehidupan. Tauhid melahirkan manhaj, Manhaj membentuk nalar, Nalar melahirkan dan mengarahkan bangunan ilmu, maka Ilmu kemudian harus menemukan manifestasinya dalam amal, sistem, teknologi, kebijakan, institusi, dan berbagai praktik kehidupan.
Rantai tersebut secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut :
Tauhid → Manhaj Sistematika Wahyu → Nalar Tauhid → Ilmu → Amal → Sistem Kehidupan → Peradaban.
Perguruan tinggi berada pada posisi yang sangat strategis dalam rantai tersebut. Di sinilah nalar bertemu dengan disiplin ilmu, ilmu dikembangkan melalui penelitian, diwariskan melalui pendidikan, dan dibawa kembali kepada kehidupan melalui pengabdian.
Karena itu, Tridharma Perguruan Tinggi semestinya dipahami sebagai satu kesatuan. Pendidikan membentuk manusia sekaligus mewariskan dan mengembangkan ilmu. Penelitian membaca realitas, menguji pengetahuan, menemukan persoalan, dan menghasilkan pengetahuan baru. Pengabdian membawa ilmu kembali kepada realitas untuk menyelesaikan persoalan dan menggerakkan perubahan. Perubahan yang dihasilkan kemudian kembali menjadi objek penelitian. Kita melihat apakah model yang diterapkan benar-benar bekerja, menemukan kelemahannya, memperbaikinya, kemudian membawa hasil pembelajaran tersebut kembali ke ruang pendidikan. Dari sana lahir generasi baru yang melanjutkan proses yang sama. Dengan proses itulah pendidikan, penelitian, dan pengabdian dapat menjadi satu siklus kerja peradaban.
Tetapi siklus itu membutuhkan medan yang nyata di mana Ilmu harus bertemu dengan kehidupan. Sebuah model harus mempunyai ruang untuk diuji dan hasil penelitian harus mempunyai medan untuk diterapkan. Ketika perubahan harus dapat diamati dan dievaluasi, lalu di mana PTH mempunyai ruang terdekat untuk menjalankan seluruh proses tersebut? Jawabannya ada pada ekosistem Hidayatullah sendiri.
Hidayatullah sebagai Laboratorium Peradaban
Hidayatullah memiliki ekosistem kehidupan yang luas. Di dalamnya terdapat sekolah, pesantren, perguruan tinggi, lembaga dakwah, organisasi, badan usaha, lembaga sosial, pengelolaan zakat dan wakaf, media, serta berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat. Seluruhnya menghadapi persoalan nyata dan seluruhnya membutuhkan ilmu untuk terus berkembang.
Mari kita ambil Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) sebagai contoh. Kita telah lama menyatakan bahwa pendidikan Hidayatullah adalah pendidikan integral berbasis tauhid. Tetapi pernyataan tersebut seharusnya membawa PTH kepada pertanyaan ilmiah yang serius, sejauh mana PIBT benar-benar telah terimplementasi dalam pendidikan Hidayatullah? Apa indikatornya? Bagaimana tauhid bekerja dalam pembelajaran Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa tanpa jatuh pada praktik mencocok-cocokkan ayat dengan materi pelajaran? Bagaimana guru memahami PIBT? Bagaimana pembelajarannya dirancang? Bagaimana asesmennya? Bagaimana budaya sekolah dibentuk? Pada aspek mana konsep dan praktik telah bertemu, dan pada bagian mana masih terdapat kesenjangan?
Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab melalui kerja ilmiah. PTH dapat membangun konsep dan instrumen, memetakan sekolah-sekolah Hidayatullah, menemukan kesenjangan, merancang intervensi, melakukan pendampingan, mengukur perubahan, memperbaiki model, kemudian mengujinya kembali. Proses tersebut terus berjalan sampai kita mempunyai model PIBT yang fondasi konseptualnya kokoh, implementasinya jelas, dapat diukur, terus dievaluasi, dan benar-benar hidup dalam praktik pendidikan Hidayatullah.
Logika yang sama berlaku terhadap persoalan ekonomi, pengelolaan sumber daya insani, tata kelola organisasi, dakwah, teknologi, media, zakat dan wakaf, pesantren, hingga pemberdayaan masyarakat. Setiap rumpun ilmu yang dimiliki PTH mempunyai medan nyata tempat ilmu tersebut dapat bekerja.
Dengan demikian, Hidayatullah dapat menjadi laboratorium peradaban yaitu satu ruang tempat di mana gagasan diuji dalam kehidupan nyata, pengetahuan diterjemahkan menjadi sistem dan tindakan, hasilnya diukur, kelemahannya diperbaiki, lalu pengetahuan baru dilahirkan kembali dari pengalaman tersebut. Namun laboratorium peradaban tidak akan bekerja dengan sendirinya. Sekolah, pesantren, organisasi, badan usaha, dan berbagai amal usaha hanyalah medan. Dibutuhkan manusia dan institusi yang secara sadar menggerakkan ilmu ke dalam medan tersebut. Pertanyaannya kemudian kembali kepada PTH adalah apakah perguruan tinggi kita akan berdiri sebagai institusi pendidikan yang mengamati kehidupan Hidayatullah dari kejauhan, atau mengambil tanggung jawab untuk ikut menggerakkan transformasinya?
Perguruan Tinggi Hidayatullah sebagai Muharrik Peradaban
Di sinilah posisi strategis Perguruan Tinggi Hidayatullah perlu diletakkan, yaitu sebagai muharrik peradaban. PTH tentu harus menjadi institusi pendidikan tinggi yang profesional. Mutu pembelajaran harus baik, dosennya harus berkembang, penelitian harus berkualitas, publikasi harus meningkat, tata kelola harus sehat, dan lulusan harus mempunyai kompetensi yang kuat. Namun seluruh kapasitas tersebut perlu bergerak menuju mandat yang lebih besar yaitu PTH harus mampu menggerakkan ilmu menjadi kekuatan transformasi.
Hidayatullah hari ini telah memiliki sarjana, magister, doktor, dosen, peneliti, dan profesional dari berbagai disiplin. Mereka merupakan kekuatan intelektual gerakan yang sangat besar apabila mampu dipertemukan, diorkestrasi, dan diarahkan kepada persoalan-persoalan strategis yang benar-benar membutuhkan jawaban.
Para ahli pendidikan dapat terus meneliti, menguji, dan menyempurnakan PIBT. Para ahli manajemen dapat mengembangkan model tata kelola organisasi dan amal usaha. Para akuntan dapat membangun sistem akuntabilitas dan pengukuran nilai yang lebih utuh. Para ekonom dapat bekerja pada persoalan kesejahteraan, pemberdayaan, dan ekonomi jamaah. Para ahli teknologi dapat mempercepat transformasi digital. Para ahli hukum dapat memperkuat tata kelola kelembagaan. Disiplin-disiplin lain dapat menemukan medan peradabannya masing-masing.
Dari kerja tersebut harus lahir pengetahuan, konsep, model, metode, instrumen, sistem, teknologi, kebijakan, kurikulum, dan berbagai bentuk intervensi. Namun semua produk itu harus menemukan manifestasinya. Ia perlu masuk ke medan kehidupan, diterapkan, diuji, diukur dampaknya, dikritik, diperbaiki, dikembangkan, kemudian diwariskan.
Di sinilah para cendekiawan yang lahir dari rahim PTH menemukan medan pengabdiannya. Gelar sarjana, magister, dan doktor tidak berhenti sebagai capaian individual. Kapasitas akademik yang telah tumbuh harus menjadi kekuatan kolektif untuk membaca persoalan umat dan gerakan, menghasilkan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, kemudian ikut menggerakkan perubahan berdasarkan pengetahuan tersebut.
Karena itu, sudah waktunya PTH membangun agenda intelektual bersama. Kita petakan persoalan-persoalan strategis Hidayatullah, mempertemukannya dengan rumpun keilmuan yang kita miliki, kemudian menjadikannya bagian dari agenda pendidikan, penelitian, dan pengabdian secara berkelanjutan. Skripsi, tesis, disertasi, penelitian dosen, forum ilmiah, dan program pengabdian dapat saling bertemu dalam pekerjaan besar yang sama.
Kuasai ilmu dengan sungguh-sungguh, kritisi dengan jernih, rekonstruksi ketika diperlukan lalu uji secara ilmiah dan turunkan hasilnya ke dalam kehidupan. Lihat dampaknya, perbaiki kekurangannya, dokumentasikan pengetahuannya kemudian ariskan kepada generasi berikutnya dan terus lakukan kembali siklus itu. Sebab jika peradaban adalah manifestasi iman dan keyakinan dalam seluruh aspek kehidupan maka ukuran akhir Perguruan Tinggi Hidayatullah tidak cukup pada berapa mahasiswa yang dididik, berapa sarjana yang diluluskan, berapa program studi yang dibuka, berapa jurnal yang diterbitkan atau berapa penelitian yang dipublikasikan. Seluruh capaian tersebut memperoleh makna ketika ilmu yang kita miliki mampu bekerja di tengah kehidupan. Karena itu ada satu pertanyaan yang layak terus kita ajukan kepada diri kita sendiri: Perubahan apa yang berhasil kita gerakkan melalui ilmu yang kita miliki?
Di titik inilah Tauhid melahirkan nalar, Manhaj Sistematika Wahyu menemukan konsekuensi intelektualnya, Tridharma menemukan makna peradabannya, para cendekiawan menemukan medan pengabdiannya, dan Perguruan Tinggi Hidayatullah menemukan mandat besarnya sebagai Muharrik Peradaban.
*) Muhammad Saddam, S.E., M.Ak., penulis Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIE Hidayatullah) dan Ketua Departemen Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Dikti Litbang) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah






