Depok — Dai senior yang juga pengkaji wawasan Islam kontemporer, KH. Drs. Anwar Hambali, mengajak mahasiswa STIE Hidayatullah Depok menjadikan kehidupan sebagai jalan pengabdian kepada Allah SWT. Pesan tersebut disampaikan dalam pembinaan mahasiswa pada Selasa (19/10/2026). Ia menyitir Al Qur’an surah Ali Imran ayat 157 yang menegaskan bahwa ampunan dan rahmat Allah lebih baik daripada segala sesuatu yang dikumpulkan manusia.
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan manusia memiliki batas akhir. Baik seseorang meninggal secara wajar maupun gugur dalam perjuangan di jalan Allah, kehidupan dunia pada akhirnya akan berakhir. Menurut Kiai Anwari, prinsip ini senafas dengan Surah Ali Imran ayat 185 yang menegaskan bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian.
“Kesadaran tentang keterbatasan hidup ini semestinya mendorong manusia mengevaluasi tujuan, pilihan, dan arah perjuangannya,” katanya.
Menurut Kiai Anwari, persoalan mendasar bukan sekadar bagaimana manusia menjalani kehidupan, melainkan untuk tujuan apa kehidupan itu digunakan. Apabila waktu, tenaga, ilmu, dan kemampuan diarahkan untuk mencari rida Allah, kehidupan memiliki orientasi pengabdian yang melampaui kepentingan material. Dalam perspektif Surah Ali Imran ayat 157, Kiai Anwari menyebut, orientasi tersebut berkaitan dengan dua keutamaan, yakni maghfirah atau ampunan dan rahmah atau rahmat Allah.
Sebaliknya, orientasi yang hanya berpusat pada kegiatan mengumpulkan harta, kedudukan, dan keuntungan duniawi berisiko menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya. Karena itu, Kiai Anwari mengingatkan, mahasiswa perlu menumbuhkan kerinduan kepada Allah agar perjuangan intelektual, profesional, dan sosial tidak kehilangan arah.
“Ilmu dan keterampilan sangat penting, tetapi nilainya semakin bermakna ketika digunakan untuk menghasilkan manfaat dan menjalankan tanggung jawab moral kepada Allah,” katanya.
Kiai Anwari juga mengaitkan orientasi pengabdian tersebut dengan visi manusia sebagai khalifah di bumi sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 30. Kedudukan ini mengandung tanggung jawab untuk mengelola kehidupan dan sumber daya secara bertanggung jawab.
Manusia tidak sekadar menjadi pengguna sumber daya alam, tetapi juga berkewajiban menjaga keseimbangan dan mencegah kerusakan, sebagaimana diperingatkan dalam Surah Al-A’raf ayat 56.
“Tanggung jawab kekhalifahan juga berkaitan dengan pembangunan kemakmuran,” terangnya seraya menukil Surah Hud ayat 61 yang mengingatkan manusia tentang tugas memakmurkan bumi.
Pengembangan Ilmu dan Pembangunan Masyarakat

Dalam konteks kehidupan modern, Kiai Anwari menjelaskan lebih lanjut, prinsip yang digariskan Al Qur’an ini dapat diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan keterampilan profesional, pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab, serta pembangunan lingkungan sosial masyarakat yang aman dan sejahtera.
Bagi mahasiswa, pemahaman tersebut sejatinya menuntut agar proses pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik atau penguasaan kompetensi semata. Kemampuan yang diperoleh perlu diarahkan untuk mendukung kehidupan masyarakat, memperkuat kemaslahatan, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Orientasi ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56 yang menegaskan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah,” terangnya.
Kiai Anwari menekankan bahwa ilmu, keterampilan, dan harta adalah sarana untuk menjalankan pengabdian. Ketiganya dapat menjadi bekal yang bernilai apabila digunakan secara bertanggung jawab di jalan Allah.
Kesadaran tentang akhir kehidupan, visi kekhalifahan, dan kewajiban memakmurkan bumi diharapkan membentuk mahasiswa yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki orientasi spiritual dan tanggung jawab sosial yang kuat. (rif/cha)






