Ketua STIE Hidayatullah Ingatkan Wisudawan tentang Tantangan Profesi di Era AI

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, Muhammad Saddam, S.E., M.Ak., mengingatkan para wisudawan agar mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin cepat, terutama akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pesan tersebut disampaikan dalam Wisuda ke-XIV STIE Hidayatullah Depok pada Ahad (26/10/2026). Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi merupakan awal perjalanan baru yang menuntut kesiapan belajar dan beradaptasi.

Saddam menjelaskan bahwa wisuda menjadi momentum untuk memformalkan perjalanan akademik mahasiswa yang telah berjuang menyelesaikan pendidikan selama kurang lebih empat tahun atau lebih. Ia juga mengingatkan makna kata sarjana yang berasal dari bahasa Sanskerta dan merujuk pada orang yang mencari jalan kebenaran.

Dalam sambutannya, Saddam terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa dan orang tua apabila selama proses pendidikan terdapat pelayanan atau pengalaman akademik yang kurang berkenan. Ia mengakui bahwa lembaga pendidikan bukan organisasi yang sempurna.

Pada saat yang sama, ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan orang tua yang telah menitipkan pendidikan putra-putri mereka kepada STIE Hidayatullah hingga mencapai tahap kelulusan.

Namun, menurut Saddam, tantangan setelah wisuda berpotensi jauh lebih berat dibandingkan perjalanan akademik yang telah dilalui. Perubahan teknologi dan kebutuhan industri menuntut lulusan untuk terus memperbarui pengetahuan serta keterampilan. Karena itu, ia meminta para wisudawan menyimak orasi ilmiah yang disampaikan Muzakkir, M.Ed., Ph.D., sebagai salah satu bahan untuk memahami tantangan yang akan mereka hadapi setelah memasuki dunia profesional.

“Saya baca orasinya luar biasa. Itu adalah tantangan yang akan Anda hadapi,” katanya.

Saddam mengungkapkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu perhatian pengelola sumber daya insani. Ia menyebut bidang akuntansi, hukum, bisnis, keuangan, dan manajemen sebagai contoh bidang yang menghadapi perubahan akibat otomatisasi.

Menurutnya, perkembangan teknologi bahkan berpotensi meluas dari perangkat lunak menuju penggunaan robot humanoid untuk menjalankan pekerjaan fisik pada masa mendatang.

“Jadi adik-adik sekalian, memang kita hidup di tengah era yang begitu keras. Maka selamatlah mereka yang tekun belajar ketika masa-masa kuliah,” kata Saddam.

Ia memperkirakan bahwa pada rentang 2035–2040, pengaruh kecerdasan buatan dan robot humanoid akan semakin terasa. Perkiraan tersebut disampaikannya sebagai gambaran tantangan jangka panjang yang perlu diantisipasi para lulusan.

Meski demikian, Saddam melanjutkan, perubahan tersebut tidak semestinya dipahami sebagai kepastian bahwa seluruh profesi atau pekerjaan di bidang terkait akan hilang, melainkan sebagai dorongan untuk mempersiapkan kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi.

Dalam situasi tersebut, Saddam menekankan pentingnya ketekunan belajar selama masa kuliah sebagai modal menghadapi persaingan. Lulusan tidak cukup hanya mengandalkan ijazah atau pengetahuan yang diperoleh di bangku pendidikan.

Menurutnya, lulusan perlu membangun kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, dan menggunakan teknologi secara tepat agar mampu menghadapi perubahan tuntutan pekerjaan.

“Karena tantangan Anda bukan lagi manusia. Nah, ini adalah tantangan yang sangat tidak mudah buat Anda semua,” terangnya.

Menutup sambutannya, Saddam kembali menyampaikan terima kasih kepada para orang tua atas kepercayaan yang diberikan kepada STIE Hidayatullah. Ia berharap para wisudawan tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar sarjana.

Ia mengingatkan bahwa di tengah perubahan teknologi yang cepat, kemampuan memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kompetensi menjadi bagian penting untuk menjaga relevansi profesional sekaligus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. (mrf/adm)

Bagikan:

Tags

era ai kampus

Related Post