Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah menunjukkan arah transformasi pendidikan tinggi melalui penguatan pendidikan holistik berbasis tauhid, integrasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta pembentukan karakter kepemimpinan dan integritas.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda XIV STIE Hidayatullah Depok, Ahad (26/10/2026), yang menguatkan kesiapan menghadapi perubahan dunia profesional dan tantangan peradaban sebagai agenda penting pengembangan perguruan tinggi.
Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah, Muzakkir, M.Ed., Ph.D., dalam orasi ilmiah bertajuk “Pendidikan Holistik Berbasis Tauhid: Transformasi Generasi Berintegritas dan Berdaya Saing di Era Kecerdasan Buatan” memperkenalkan lima domain pendidikan, yakni keimanan, pengetahuan, nilai, keterampilan, dan sosial kemasyarakatan. Kebijakan ini diarahkan untuk membentuk lulusan yang tidak hanya menguasai kompetensi akademik dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas spiritual serta kemampuan memberikan solusi bagi persoalan masyarakat. Bagi STIE Hidayatullah, implementasinya diwujudkan melalui pembentukan profil Ekonom Rabbani yang memahami keuangan sosial Islam, menghindari riba dan gharar, mengembangkan sistem bagi hasil, serta memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Kesiapan menghadapi transformasi teknologi juga menjadi perhatian Ketua STIE Hidayatullah, Muhammad Saddam, S.E., M.Ak. Ia mengingatkan bahwa perkembangan AI mempercepat perubahan dunia kerja sehingga lulusan perguruan tinggi harus memiliki kemampuan beradaptasi, terus belajar, dan mengembangkan kompetensi profesional.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menekankan bahwa integritas merupakan fondasi kehidupan profesional dan sosial. Gelar akademik, menurut pesan yang disampaikan kepada wisudawan, harus diwujudkan melalui tanggung jawab, karakter kepemimpinan, dan kesediaan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Arah tersebut sejalan dengan visi STIE Hidayatullah menuju 2035 sebagai perguruan tinggi bertaraf internasional yang mengintegrasikan keilmuan, nilai tauhid, dan kearifan lokal berbasis pesantren. Peta jalan institusi juga menempatkan pengembangan kapasitas riset sebagai salah satu agenda strategis. Penguatan kurikulum, kompetensi dosen, literasi digital, kolaborasi industri, serta ekosistem penelitian menjadi langkah penting untuk memastikan visi tersebut memiliki landasan operasional.
Ke depan, tantangan STIE Hidayatullah bukan hanya menghasilkan lulusan yang siap memasuki pasar kerja, melainkan membangun institusi yang mampu menjadi pusat pengembangan pemikiran dan solusi ekonomi. Penguasaan AI perlu diikuti penguatan riset ekonomi Islam, kewirausahaan, keuangan digital, serta kajian ekonomi masyarakat. Dengan demikian, teknologi tidak sekadar menjadi perangkat operasional, tetapi instrumen untuk memperluas kontribusi akademik dan sosial perguruan tinggi.
Melalui momentum Wisuda XIV, STIE Hidayatullah menegaskan bahwa masa depan pendidikan tinggi membutuhkan perpaduan antara keunggulan intelektual, kecakapan teknologi, integritas moral, dan tanggung jawab peradaban. Transformasi tersebut menjadi modal strategis untuk mempersiapkan perguruan tinggi yang adaptif, kompetitif, dan tetap berakar pada nilai-nilai tauhid.






