Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok memperkuat kompetensi calon sarjana dengan keilmuan dan keterampilan pengajaran Al-Qur’an melalui Daurah Muallim Grand MBA 2026.
Grand MBA adalah singkatan dari Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an. Gerakan ini merupakan program dan metode pembelajaran Al-Qur’an berskala nasional yang diinisiasi oleh organisasi massa Islam Hidayatullah.
Pelatihan bertajuk “Standardisasi Muallim Al Quran Nasional” berlangsung selama enam hari, 29 September–4 Oktober 2026, bekerja sama dengan Badan Koordinasi Pembinaan Tilawatil Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah.
Program tersebut menegaskan orientasi pendidikan yang tidak membatasi kesiapan lulusan pada kompetensi akademik dan profesional. Calon wisudawan dipersiapkan memiliki kapasitas membina Al-Qur’an ketika memasuki dunia profesional, kewirausahaan maupun pengabdian masyarakat.
Ketua BKPTQ Hidayatullah, Muhdi Muhammad, mengatakan kemampuan mengajarkan Al-Qur’an sebagai bagian dari proses pembinaan dan kaderisasi. Interaksi dengan Al-Qur’an tidak cukup melalui kemampuan membaca dan menghafal, tetapi mencakup pemahaman, pengamalan, serta kemampuan mengajarkannya kepada orang lain.
“Daurah ini diarahkan untuk membekali calon wisudawan agar memiliki kemampuan menjadi muallim Al-Qur’an, sehingga kompetensi kesarjanaan mereka dapat berjalan bersama kapasitas pembinaan Al-Qur’an,” katanya.
Kurikulum pelatihan dibangun melalui dua materi inti, Grand MBA dan Al Hidayah, disertai micro teaching. Peserta mempelajari Ulumul Qur’an, metode pengajaran tahsin, penerjemahan Al-Qur’an dan pembacaan kitab gundul, Fiqh Dakwah, manajemen pembelajaran, Tajwid Gharib, serta mengikuti peer teaching secara berulang.

Rangkaian hingga 22 sesi guna memantapkan standardisasi yang tidak berhenti pada penguasaan teori. Porsi praktik mengajar ditempatkan sebagai instrumen untuk menguji kemampuan peserta mentransformasikan pengetahuan menjadi keterampilan pembelajaran.
Sebagaimana agenda, jadwal pelatihan ditutup dengan eksplorasi metode Al Hidayah Tajwid Gharib dan peer teaching pada 4 Oktober 2026.
Dengan konstruksi tersebut, calon sarjana STIE Hidayatullah dipersiapkan membawa dua kapasitas sekaligus, yakni, kompetensi profesional sesuai pendidikan tinggi dan kemampuan menjadi muallim yang dapat membina Al-Qur’an di keluarga, lingkungan kerja, serta masyarakat. (ybh/adm)






