Perguruan tinggi Hidayatullah perlu melakukan pembenahan menyeluruh agar mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan bersaing di tengah dinamika pendidikan tinggi. Kasubdit Kelembagaan dan Kerja Sama Direktorat Pendidikan Tinggi PTKI, Dr. Ahmad Mahfud Arsyad, M.Ag., menekankan bahwa kejelasan visi, penguatan sumber daya manusia (SDM), dan penerapan penjaminan mutu merupakan unsur penting dalam membangun keunggulan institusi.
Pesan tersebut disampaikan dalam Workshop Penguatan dan Implementasi Pedoman Sistem Penjaminan Mutu di Kampus STIE Hidayatullah, kawasan terpadu Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Rabu (14/10/2026. Kegiatan ini diikuti para pimpinan dan pengelola jaringan Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) se-Indonesia.
Ahmad Mahfud mengingatkan bahwa keberlangsungan perguruan tinggi sangat berkaitan dengan kemampuannya memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pendidikan yang berkualitas. Menurutnya, masyarakat akan selalu memilih perguruan tinggi terbaik berdasarkan kebutuhan dan pertimbangan masing-masing.
Karena itu, dia mengatakan, PTH perlu membangun keunggulan yang dapat dibuktikan melalui kualitas penyelenggaraan pendidikan, kompetensi lulusan, dan tata kelola institusi. Upaya peningkatan mutu tidak cukup menjadi agenda sesaat, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengembangan perguruan tinggi.
Untuk menggambarkan persoalan yang dihadapi, ia mengibaratkan kondisi perguruan tinggi seperti orang yang berlari kencang di atas treadmill: mengerahkan banyak tenaga, tetapi tidak bergerak menuju tujuan. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kesibukan organisasi belum tentu menghasilkan kemajuan apabila tidak disertai arah yang jelas dan evaluasi terhadap hasil kerja.
Perguruan tinggi, menurutnya, perlu memastikan bahwa kegiatan operasional dan administratif benar-benar berkontribusi terhadap peningkatan mutu, bukan sekadar mempertahankan rutinitas.
Ia juga menyoroti sejumlah kendala yang dapat memperlambat perkembangan institusi, mulai dari visi yang tidak jelas, keterbatasan SDM dan anggaran, jumlah mahasiswa yang kurang, sarana dan prasarana yang belum memadai, hingga persoalan internal. Berbagai masalah tersebut membutuhkan diagnosis yang tepat agar penanganannya tidak dilakukan secara parsial.
Menurutnya, salah satu pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh para pengelola adalah apakah perguruan tinggi telah diselenggarakan sesuai standar yang diperlukan untuk menghasilkan pendidikan bermutu.
Dalam menjawab tantangan tersebut, terang Ahmad Mahfud, sistem penjaminan mutu perlu dijadikan bagian integral dari tata kelola perguruan tinggi. Sistem ini mencakup penjaminan mutu internal dan eksternal. Landasan regulasinya antara lain Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, yang kemudian diubah melalui Permendiktisaintek Nomor 10 Tahun 2026.
“Kerangka regulasi ini menjadi acuan bagi perguruan tinggi dalam menyelenggarakan penjaminan mutu dan melakukan peningkatan kualitas institusi secara sistematis,” katanya.
SDM sebagai Investasi Strategis

Di samping pembenahan sistem, lebih lanjut Ahmad Mahfud memandang pengembangan SDM sebagai investasi strategis. Ia menegaskan bahwa ketika institusi mengalokasikan sumber daya untuk meningkatkan kapasitas SDM, manfaatnya akan kembali kepada perguruan tinggi melalui perbaikan kinerja dan kualitas pengelolaan.
Kompetensi tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan pengelola berpengaruh terhadap pelaksanaan pembelajaran, efektivitas tata kelola, serta kemampuan institusi menghadapi perubahan. Dengan demikian, tegasnya, pengembangan SDM perlu direncanakan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar komponen pengeluaran rutin.
Ahmad Mahfud selanjutnya mendorong agar jaringan PTH memiliki orientasi pengembangan yang lebih terarah. Dari sembilan perguruan tinggi Hidayatullah, ia menekankan perlunya membangun kampus unggulan. Dia menilai upaya tersebut membutuhkan pemetaan potensi setiap institusi, penentuan fokus pengembangan, serta tahapan pencapaian yang realistis dan terukur.
“Kampus unggulan ini nantinya dapat menjadi rujukan dalam pengembangan mutu sekaligus mendorong perguruan tinggi lain di lingkungan Hidayatullah untuk meningkatkan kapasitasnya,” katanya.
Dia mengingatkan bahwa kejelasan visi, penguatan SDM, kecukupan sumber daya, evaluasi berkelanjutan, dan strategi pengembangan keunggulan perlu dijalankan secara terpadu. Melalui pendekatan tersebut, dia berharap, perguruan tinggi Hidayatullah dapat mengatasi stagnasi, memperkuat daya saing, dan membangun institusi unggulan yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. (cha/adm)






