Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah, Muhammad Saddam, S.Ak., M.Ak., mengajak mahasiswa baru untuk mereformasi orientasi kuliah agar tidak sekadar menjadi sarjana biasa. Penegasan ini disampaikannya dalam acara kuliah umum (Studium Generale) yang berlangsung di kampus STIE Hidayatullah, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (5/9/2026). Di hadapan ratusan mahasiswa, Saddam menyoroti tantangan dunia kerja modern yang kian kompetitif dan mengalami disrupsi teknologi secara masif.
Dalam pemaparannya, Saddam menyajikan data riil guna membuka cakrawala berpikir mahasiswa mengenai tantangan pascakelulusan. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, tercatat sebanyak 904.440 sarjana masih menyandang status penganggur di Indonesia. Angka tersebut diperkuat dengan realitas persaingan ketat, seperti yang terjadi pada Job Fair Bekasi 2025, di mana lebih dari 25.000 pencari kerja memperebutkan lowongan yang hanya berjumlah 2.557 dari 63 perusahaan.
Tantangan ini kian berat akibat perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang bergerak eksponensial. Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF) 2025, sebesar 39 persen keahlian inti pekerja diproyeksikan akan berubah hingga tahun 2030. Bahkan, sebanyak 41 persen perusahaan berencana mengurangi tenaga kerja karena AI mampu mengotomatisasi pekerjaan rutin seperti akuntan, administrasi, entri data, serta laporan berkala.

Merespons kondisi tersebut, Saddam menekankan bahwa mahasiswa memiliki waktu 1.460 hari selama masa studi empat tahun untuk mempersiapkan masa depan mereka.
Mahasiswa didorong dia untuk tidak sekadar mengejar kelulusan cepat atau pekerjaan rutin, melainkan fokus membangun kapasitas diri secara holistik yang mencakup ilmu, akhlak, kompetensi, jaringan, pengalaman, karya, dan dampak nyata.
Saddam berharap lulusan kampus ini tampil sebagai profil Sarjana Hidayatullah yang berkarakter islami, kompeten secara profesional, berdaya saing global, serta peduli terhadap umat dan bangsa. Peran tersebut harus dijalankan dengan aktif menjadi agen kontrol, agen perubahan, dan persediaan kader pemimpin masa depan yang berkualitas.
“Jangan jadi sarjana biasa,” pesan Saddam memotivasi mahasiswa, seraya menggarisbawahi prinsip utama perjuangan kader, “Karena sarjana bukan akhir perjalanan, tapi awal pengabdian”. (adm/cha)






