Penerima anugerah Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan, Jamaluddin, membagikan rekam jejak perjuangannya dalam webinar bertajuk Local Action for Global Impact yang digelar Ikatan Alumni (IKA) STIE Hidayatullah bersama Laznas BMH, Impactplus, dan Gerakan Mahasiswa Hidayatullah pada Sabtu, 12 September 2026.
Dalam forum tersebut, ia menegaskan pentingnya investasi pada kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama pemulihan ekosistem. Membangun gedung itu penting, tapi membangun manusia tidak kalah penting, ujar peraih penghargaan lingkungan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup pada 11 Juni 2026 itu.
Gerakan pembaharuan Jamaluddin bermula pada 2014 di Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Setelah meraih gelar magister, ia memelopori pendirian Rumah Koran di sebuah bangunan tua berukuran 4×5 meter.
Inisiatif Literasi Cerdas Anak Petani ini bertransformasi dari pengenalan melek huruf hingga pemahaman melek ekologi, termasuk efisiensi pemanfaatan bahan kimia guna menekan biaya produksi dan merawat kesuburan tanah. Kawasan yang memasok hingga 30 ton sayur-mayur per hari ke pasar regional tersebut kemudian digerakkan untuk memperkuat ketahanan lingkungan secara terstruktur.
Melalui pendekatan berbasis tradisi lokal seperti Akkammisi, Sibali-I, dan Attesang, masyarakat bahu-membahu membangun sekitar 100 embung pertanian demi menjaga ketersediaan air di lereng Gunung Bawakaraeng.
Keberhasilan menjaga produktivitas lahan ini turut melahirkan aksi sosial berkelanjutan, yakni penyaluran hasil panen ke 100 panti asuhan di Sulawesi Selatan. Kiprah globalnya sebagai salah satu delegasi Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP28) di Dubai tahun 2023 semakin memantapkan peran strategis pemuda kelahiran 20 Agustus 1988 tersebut.
Penguatan sisi ekologi dipadukan secara komprehensif dengan keadilan struktur ekonomi pertanian. Usai menuntaskan studi doktoral di Pascasarjana UIN Alauddin Makassar pada 19 Januari 2026 dengan predikat cumlaude dan IPK 4,0, Jamaluddin menawarkan reformasi sistem bagi hasil Attesang berbasis Al-Adl.
Konsep ini mendorong transparansi risiko dan kesetaraan posisi tawar antara pemilik modal dan petani penggarap. Sinergi antara keadilan ekonomi dan pemeliharaan lingkungan hidup ini menjadikan Desa Kanreapia sebagai model percontohan pembangunan pedesaan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Ketua IKA STIE Hidayatullah, Syamsuddin, menilai perspektif ekonomi kerakyatan yang diusung Jamaluddin berlaras kuat dengan misi akademis STIE Hidayatullah dalam mendorong kemandirian serta keadilan bisnis pedesaan.
“Melalui integrasi antara pemangkasan rantai pasok pupuk kimia dan transparansi sistem Attesang berbasis Al-Adl, efisiensi biaya produksi tani di Kanreapia berhasil ditekan hingga tingkat optimal,” katanya dalam keterangannya.
Model ini pun dampaknya nyata pada peningkatkan margin pendapatan petani penggarap serta terciptanya stabilitas pasokan 30 ton sayuran harian yang menjaga ketahanan ekonomi regional.
“Model ekonomi sirkular berbasis komunitas ini membuktikan bahwa edukasi literasi dan pelestarian ekologi mampu bertindak sebagai penggerak utama dalam memutus rantai kemiskinan struktural di tingkat tapak,” imbuhnya menandaskan. (adm/cha)






