STIE Hidayatullah Menghubungkan Modal Sosial Kampus dan Etos Kerja

DATA Angkatan Kerja Nasional mencatat fenomena yang meresahkan dimana lebih dari 1,03 juta lulusan perguruan tinggi berada dalam barisan pengangguran. Angka ini mencerminkan tingkat pengangguran terdidik sebesar 14,31 persen dari total pengangguran nasional.

Sebuah paradoks besar bagi negara berkembang yang sedang menggebu-gebu mengejar ketimpangan produktivitas menuju Indonesia Emas. Lembar ijazah sarjana yang dahulu dianggap sebagai tiket emas menuju mobilitas sosial naik kelas, kini berubah menjadi sekadar selembar kertas pembungkus harapan.

Akar masalah ini kerap disederhanakan sebagai persoalan kesenjangan hubungan antara dunia pendidikan dan industri. Perguruan tinggi dianggap gagap mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Sosiolog ekonomi Pierre Bourdieu memberikan sudut pandang yang lebih mendalam mengenai persoalan ini. Ijazah pada dasarnya hanyalah modal budaya. Agar modal budaya dapat dikonversi menjadi modal ekonomi berupa pekerjaan dan penghasilan, seseorang memerlukan modal sosial berupa jaringan relasi, akses informasi, serta pengalaman.

Di sinilah letak ketimpangan kapital itu menganga. Lulusan dari latar belakang ekonomi mapan kerap memiliki jalan tol berupa relasi keluarga dan akses teknologi. Sementara itu, mayoritas sarjana dari kelas pekerja atau daerah suburban harus mengantre panjang di bursa kerja hanya berbekal lembaran nilai. Struktur ekonomi yang kian bergeser ke sektor padat modal dan otomatisasi semakin mempersempit ruang bagi pencari kerja tanpa jaringan.

Namun, menyerahkan seluruh persoalan pada ketimpangan struktural dan kegagalan kurikulum kampus juga bukan sikap yang bijak. Ada variabel lain yang sangat menentukan di tingkat individu: daya saing, etos kerja, dan adaptabilitas.

Dalam teori modal manusia (human capital), keterampilan teknis hanyalah sebagian dari komponen produktivitas. Komponen lain yang tidak kalah krusial adalah keterampilan nonteknis dan sikap mental yang membentuk ketahanan seseorang di tengah tekanan pasar kerja.

Fenomena budaya nyaman atau pola hidup pasif yang kerap diidentikkan dengan perilaku rebahan di kalangan generasi muda menciptakan persoalan tersendiri. Keterampilan yang diperoleh di ruang kuliah akademik dengan cepat menjadi kedaluwarsa jika tidak diperbarui melalui kegiatan ekstra, pelatihan lapangan, kepemimpinan, dan pengalaman praktis.

Di dunia kerja yang bergerak cepat, perusahaan tidak lagi membeli masa lalu seseorang yang terekam dalam transkrip nilai, melainkan potensi kontribusi dan daya juang yang ditunjukkan saat menghadapi tantangan riil.

Oleh karena itu, diperlukan rekayasa ekosistem pendidikan tinggi yang mampu memotong rantai ketimpangan kapital tersebut. Model beasiswa ikatan dinas yang terintegrasi dengan jaringan lembaga produktif hadir sebagai salah satu jawaban konkret. Melalui skema ini, kampus tidak semata menandai kelulusan dengan ijazah, tetapi juga sebagai fasilitator modal sosial yang menghubungkan mahasiswa langsung dengan bursa kerja.

Model pendidikan seperti yang diterapkan STIE Hidayatullah memberikan gambaran bagaimana integrasi tersebut bekerja. Dengan memadukan kurikulum akademik di bidang Manajemen dan Akuntansi dengan program kepengasuhan serta diklat kepemimpinan lapangan, mahasiswa dibentuk untuk memiliki kesiapan mental sebelum melangkah ke dunia profesional.

Etos Individu

Skema ikatan dinas yang terhubung dengan jaringan organisasi dan unit usaha di berbagai wilayah Indonesia memberikan kepastian jalur penyerapan kerja. Kampus ini secara aktif menjembatani jurang ketimpangan akses jaringan yang selama ini menjadi penghalang bagi sarjana dari daerah.

Namun, ketersediaan jalur ikatan dinas dan jaringan institusi sejatinya hanyalah sebuah sarana. Jaminan penyaluran kerja tidak akan bermakna apabila individu yang bersangkutan tidak memiliki daya tahan mental dan etos kerja yang kuat.

Mahasiswa tetap menjadi variabel penentu. Sistem sebaik apa pun tidak akan menghasilkan tenaga kerja produktif jika penerimanya kehilangan dorongan untuk berkembang.

Beasiswa dapat membuka pintu, jaringan dapat mempertemukan seseorang dengan kesempatan, tetapi kompetensi dan etos kerja menentukan apa yang dilakukan setelah pintu itu terbuka.

Solusi atas pengangguran terdidik tidak cukup dengan menanti pertumbuhan investasi atau meratapi keterbatasan lapangan kerja. Pembenahan harus dilakukan dari dua arah secara simultan.

Pada tingkat institusi, perguruan tinggi harus berani keluar dari menara gading dengan membangun ekosistem pembelajaran berbasis pengalaman praktis dan jaringan kerja yang nyata.

Pada tingkat individu, mahasiswa harus menyadari bahwa masa kuliah adalah periode krusial untuk membangun daya saing mandiri. Keberhasilan menembus bursa kerja tidak ditentukan oleh seberapa megah gedung kampusnya, melainkan oleh seberapa kuat ia menolak untuk sekadar menjadi penonton pasif di tengah perubahan. (adm/cha)

Bagikan:

Related Post