Membaca Al-Alaq di Era Kecerdasan Artifisial, Antara Ambisi Homo Deus dan Kesadaran Manusia

Prolog

KITA hidup di zaman di mana mesin bisa menulis, melukis, menggubah musik, dan menjawab pertanyaan filsafat. Penelitian MIT menunjukkan bahwa penggunaan AI secara intensif justru menurunkan kemampuan berpikir kritis manusia, karena kita semakin sering mendelegasikan kerja otak kepada mesin dan semakin jarang melatih kemampuan itu sendiri.

Di sisi lain, video dan foto palsu hasil kerja kecerdasan artifisial sudah cukup canggih untuk memperdaya jutaan orang. Dunia akademik masih berdebat: apakah AI betul-betul mengangkat taraf hidup manusia, atau justru perlahan merendahkannya?

Yuval Noah Harari dalam Homo Deus meramalkan bahwa dengan perkembangan AI dan bioteknologi, manusia tidak lagi sekadar mengendalikan dunia. Manusia mulai mengubah dirinya sendiri, mengintegrasikan dirinya dengan teknologi, berambisi menciptakan bentuk kehidupan yang lebih unggul.

Harari menyebutnya transisi dari Homo Sapiens ke Homo Deus, manusia yang bermimpi menjadi dewa. Sebuah ambisi yang, jika kita baca sejarah, bukan kali pertama muncul.

Makkah abad ke-7 juga punya versinya sendiri dari ambisi itu. Kemakmuran dagang membuat kaum Quraisy merasa telah menjadi penentu nasib mereka sendiri. Kekayaan menjadi agama baru. Individualisme menggantikan solidaritas. Dan, dalam kemabukan itu, manusia lupa dari mana ia berasal dan kepada siapa ia akan kembali.

Wahyu pertama yang turun bukan kebetulan dimulai dengan satu kata: Iqra’. Bukan larangan, bukan hukum, bukan ancaman. Tapi perintah membaca. Seolah Allah sedang mengatakan bahwa sebelum segalanya, sebelum aturan dan ritual, manusia harus terlebih dahulu memahami dirinya sendiri, dari mana ia berasal, apa yang membentuknya, dan ke mana ia seharusnya berjalan.

Tulisan ini mencoba membaca enam ayat pertama surat Al-Alaq bukan sebagai teks kuno yang berjarak dengan zaman kita, melainkan sebagai cermin yang sangat relevan untuk menjawab satu pertanyaan: di tengah era yang mendorong manusia menjadi Homo Deus, jalan apa yang ditawarkan Al-Alaq?

Iqra’, Ketika Membaca adalah Perlawanan

Para mufassir hampir sepakat bahwa perintah Iqra’ bukan sekadar instruksi literasi. Quraish Shihab dalam Al-Misbah mengutip Syeikh Abdul Halim Mahmud yang menulis bahwa Al-Quran tidak sekadar memerintahkan membaca, karena membaca adalah lambang dari segala apa yang dilakukan manusia, baik yang aktif maupun pasif.

Perintah itu dalam pengertian dan semangatnya ingin menyatakan: bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu, dan bahkan apabila kamu berhenti dari sesuatu aktivitas, hendaklah itu pun didasarkan pada bismi rabbik. Pada akhirnya ayat tersebut bermakna: jadikanlah seluruh kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuannya, kesemuanya demi karena Allah.

Tafsir Nurul Quran karya Allamah Kamal Faqih Imani menambahkan dimensi sosial yang menarik: Al-Alaq turun sebagai jawaban tentang bagaimana memulai perubahan di masyarakat, yaitu dengan ilmu yang ditulis melalui pena.

Wahyu ini adalah deklarasi perubahan sikap mental, dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan. Kemajuan dalam masyarakat sering dimulai dengan pena orang-orang yang beriman dan jujur yang merasa bertanggung jawab atas tulisan mereka. Namun, pena yang beracun juga bisa menjadi sumber kejahatan.

Buya Hamka dalam Al-Azhar mengutip Muhammad Abduh dengan nada yang lebih keras: jika kaum muslimin tidak mendapat petunjuk dengan ayat ini dan tidak memperhatikan jalan-jalan untuk maju, jika ayat pembukaan wahyu ini tidak menggetarkan hati mereka, maka tidaklah mereka akan bangun lagi selama-lamanya.

Hamka dan Abduh melihat ayat ini sebagai kritik keras terhadap para pemuka agama yang justru menjadi penghalang bagi umat untuk mendapatkan ilmu dan pencerahan yang sebenar-benarnya.

Benang merah dari semua penafsiran ini adalah satu: Iqra’ bismi rabbik adalah perintah untuk membangun seluruh orientasi hidup di atas fondasi yang benar, yaitu pengenalan kepada Rabb sebagai otoritas kebenaran.

Di era AI hari ini, ketika mesin bisa membaca dan menulis lebih cepat dari manusia, relevansi perintah ini justru semakin tajam. Yang sedang terancam bukan kemampuan membaca secara teknis, yang terancam adalah kemampuan manusia untuk membaca dengan bismi rabbik, dengan orientasi, dengan tujuan, dengan tanggung jawab moral.

Min ‘Alaq, Kemuliaan yang Berakar dari Kelemahan

Ayat kedua menyebut asal-usul manusia: khalaqal insana min ‘alaq, diciptakan dari segumpal darah yang lemah. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa penyebutan ‘alaqah merujuk pada segumpal darah yang lembut.

Penyebutan insan secara khusus dalam ayat ini dimaksudkan untuk menunjukkan kehormatan manusia yang lebih tinggi dibandingkan makhluk lainnya, sekaligus untuk menggambarkan kadar nikmat yang diberikan: mereka yang awalnya tercipta dari darah yang hina kemudian menjadi manusia sempurna yang memiliki akal dan kemampuan untuk membedakan segalanya.

Ini adalah paradoks yang sangat disengaja. Allah tidak memulai pengenalan manusia dari keagungannya, dari akalnya, dari potensinya sebagai khalifah. Allah memulai dari ‘alaqah, dari titik paling rapuh dalam proses penciptaan. Seolah ingin menegaskan: kemuliaan manusia bukan terletak pada apa yang ia miliki sekarang, melainkan pada perjalanan dari kelemahan menuju potensi tertingginya.

Ini langsung berbicara kepada ambisi Homo Deus. Ketika manusia mulai lupa bahwa ia bermula dari ‘alaqah, ketika kemakmuran dan teknologi membuatnya merasa telah menjadi penentu nasibnya sendiri, di situlah ia melampaui batas. Ayat keenam Al-Alaq menyebutnya dengan sangat tepat: kalla innal insana layatgha, an ra-ahu istaghna. Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena ia melihat dirinya serba cukup.

Al-Qurthubi menafsirkan ayat ini sebagai gambaran manusia yang bersikap sombong terhadap Tuhannya, kufur terhadap-Nya, karena merasa tidak butuh lagi kepada siapa pun.

Jarak antara min ‘alaq dan layatgha adalah jarak antara kesadaran dan kesombongan. Manusia yang ingat bahwa ia bermula dari segumpal darah yang lemah tidak akan mudah terjebak dalam ilusi bahwa ia bisa menjadi Tuhan. Sebaliknya, manusia yang lupa asal-usulnya adalah manusia yang paling rentan terhadap jebakan istaghna, merasa serba cukup, merasa tidak membutuhkan petunjuk dari luar dirinya.

Ontologi Manusia Spektrum antara Dua Kutub

Memahami min ‘alaq membuka pertanyaan yang lebih dalam: jika manusia berasal dari sumber yang sama, mengapa hasilnya begitu berbeda? Mengapa ada yang tumbuh menjadi manusia yang memancarkan kebaikan, sementara yang lain tenggelam dalam kerusakan?

Quraish Shihab dalam Al-Misbah menggambarkan al-insan sebagai makhluk dengan rentang sifat yang sangat luas dan selalu memiliki dinamika. Tidak hanya antar manusia, tapi di dalam individu itu sendiri terdapat spektrum yang bergerak dari satu kutub ke kutub lain.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Ar-Ruh menyebut bahwa manusia secara umum terdiri dari tiga unsur: jasad, ruh, dan akal. Ruh sebagai dzat yang langsung ditiupkan Allah adalah dzat hidup yang di dalamnya termanifes sifat-sifat Ilahiah.

Ruh inilah yang seharusnya menjadi pemandu dari apa yang dipikirkan akal dan kemudian dieksekusi jasad. Namun melampaui batas seringkali menjadi penghalang bagi ruh untuk memegang kendali.

Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi unsur manusia menjadi jiwa, nafsu, dan akal. Ketiga unsur ini menjadi sebab keragaman sifat manusia yang termanifestasi dalam setiap tindakannya.

Jiwa atau ruh yang ditiupkan Allah melahirkan sifat-sifat ketuhanan dalam diri manusia dan berfungsi sebagai pusat moralitas. Ketika ruh yang memimpin, manusia bergerak ke arah kesempurnaan. Ketika nafsu yang memimpin, manusia bergerak ke arah kehancuran.

Inilah yang menjelaskan mengapa manusia bisa berada di dua ujung spektrum yang sangat jauh. Bukan karena ada perbedaan hakikat asal, karena semua bermula dari ‘alaqah yang sama. Yang berbeda adalah pilihan: unsur mana yang dibiarkan memimpin, ruh atau nafsu, petunjuk Rabb atau hawa nafsu yang merasa serba cukup.

Dan, di sinilah relevansi bismi rabbik menjadi sangat konkret. Perintah membaca dengan nama Rabb bukan hanya orientasi epistemik, ia adalah praktik harian untuk memastikan bahwa ruh tetap menjadi pemandu, bahwa setiap tindakan berangkat dari kesadaran akan siapa Rabb dan bukan dari kesombongan yang merasa serba cukup.

Homo Deus atau Al-Insan Al-Kamil

Pertanyaan yang diajukan di prolog sekarang bisa dijawab dengan lebih jelas. Manusia memiliki dua arah yang mungkin ia tuju, dan keduanya adalah pilihan yang nyata.

Arah pertama adalah Homo Deus, versi modern dari layatgha an ra-ahu istaghna. Manusia yang menggunakan akal dan teknologi bukan untuk mendekat kepada Rabb, melainkan untuk menggantikan-Nya. Manusia yang lupa dari mana ia berasal dan merasa bahwa dengan cukup banyak data, algoritma, dan rekayasa genetika, ia bisa menciptakan surga versinya sendiri di bumi. Ini bukan skenario fiksi ilmiah, ini adalah arah yang sedang berjalan hari ini.

Arah kedua adalah Al-Insan al-Kamil, konsep yang diuraikan Ibnu Arabi dalam pemikirannya tentang manusia yang telah mencapai kesempurnaan spiritual dan intelektual, dan mampu mencerminkan kesatuan dengan Tuhan dalam kehidupannya.

Manusia sempurna ini bukan manusia yang menghapus sisi kemanusiaannya atau yang lari dari dunia, melainkan manusia yang berhasil mengintegrasikan kehidupan duniawi dan spiritual. Yang menggunakan akal sebagai alat untuk mengenal Rabb, bukan untuk menggantikan-Nya. Yang membaca dengan bismi rabbik, bukan dengan bismi-ku sendiri.

Yang menarik adalah bahwa Al-Alaq tidak menawarkan jalan tengah yang nyaman. Ia tidak bilang: jadilah biasa-biasa saja, tidak terlalu ambisius, tidak terlalu spiritual. Al-Alaq justru menawarkan ambisi tertinggi, yaitu menjadi Al-Insan Al-Kamil. Tapi ambisi itu dibangun di atas fondasi yang sama sekali berbeda dari ambisi Homo Deus. Bukan ambisi untuk melampaui Tuhan, melainkan ambisi untuk semakin dekat dengan-Nya melalui ilmu, amal, dan adab.

Dan jalan menuju ke sana selalu dimulai dari hal yang sama: mengingat bahwa kita bermula dari ‘alaqah, membaca dengan bismi rabbik, dan menyadari bahwa segala karunia akal dan ilmu yang kita miliki adalah pemberian dari Rabbuka al-Akram, bukan hasil kerja kita sendiri.

Epilog

Ada ironi yang dalam dalam situasi kita hari ini. Kita menggunakan AI untuk menulis lebih cepat, berpikir lebih efisien, dan menghasilkan lebih banyak. Tapi penelitian menunjukkan bahwa semakin kita mendelegasikan kerja berpikir kepada mesin, semakin kita kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mendalam dan mandiri.

Kita sedang bergerak ke arah Homo Deus dalam mimpi, tapi dalam praktiknya kita sedang menjadi lebih lemah, bukan lebih kuat.

Al-Alaq tidak anti-teknologi. Wahyu pertama ini justru merayakan ilmu, pena, dan kemampuan manusia untuk belajar. Tapi ia merayakannya dengan satu syarat yang tidak bisa dinegosiasikan: semuanya harus berangkat dari bismi rabbik. Bukan dari bismi teknologi, bukan dari bismi pasar, bukan dari bismi tren.

Pilihan antara Homo Deus dan Al-Insan al-Kamil bukan pilihan yang dibuat sekali lalu selesai. Ia dibuat setiap hari, dalam setiap keputusan kecil tentang dengan nama siapa kita membaca, bekerja, berpikir, dan hidup.

Dan, kesadaran tentang min ‘alaq, bahwa kita bermula dari segumpal darah yang lemah dan hanya menjadi mulia karena karunia Rabb, adalah kesadaran yang perlu diperbarui setiap saat.

Barangkali itulah mengapa wahyu pertama tidak turun sebagai hukum atau larangan. Ia turun sebagai perintah untuk membaca, karena sebelum manusia bisa memilih arahnya, ia harus terlebih dahulu memahami dirinya sendiri.[]

MUHAMMAD SADDAM

Bagikan:

Related Post