SEJARAH peradaban manusia menunjukkan bahwa kemajuan masyarakat selalu bertumpu pada tradisi intelektual yang kuat. Tradisi memuliakan pengetahuan ini menempatkan proses berpikir, belajar, dan menelaah realitas sebagai landasan pengambilan keputusan publik.
Dalam konteks kehidupan modern yang ditandai kompleksitas ekonomi global, tradisi intelektualisme menjadi semakin penting, terutama dalam membangun literasi ekonomi masyarakat.
Realitas ekonomi kontemporer menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari masyarakat semakin terhubung dengan mekanisme pasar, sistem keuangan, serta dinamika kebijakan ekonomi negara.
Setiap keputusan individu mulai dari konsumsi rumah tangga, penggunaan kredit, investasi kecil, hingga aktivitas perdagangan, sesungguhnya merupakan bagian dari aktivitas ekonomi yang memiliki konsekuensi luas. Tanpa pemahaman ekonomi yang memadai, masyarakat berisiko mengambil keputusan yang tidak rasional dan merugikan dirinya sendiri.
Data berbagai lembaga menunjukkan bahwa literasi ekonomi dan keuangan masyarakat masih menjadi tantangan serius. Survei nasional literasi keuangan yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan pada 2022 mencatat tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia berada pada angka sekitar 49,68 persen.
Artinya, bahwa, lebih dari separuh masyarakat masih memiliki pemahaman terbatas mengenai konsep dasar pengelolaan keuangan, investasi, maupun risiko ekonomi. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kompleksitas sistem ekonomi modern dengan kapasitas pemahaman publik terhadapnya.
Di tengah situasi tersebut, tradisi intelektualisme memiliki relevansi yang mendasar. Tradisi ini menuntut masyarakat untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga pembaca kritis terhadap realitas sosial dan ekonomi.
Dalam masyarakat yang memiliki budaya intelektual kuat, pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik, melainkan menjadi bagian dari kehidupan publik. Diskursus, kajian, dan pendidikan menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan kolektif.
Dalam perspektif Islam, tradisi intelektualisme memiliki fondasi teologis yang sangat kuat. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad membawa perintah membaca, yang menegaskan bahwa pengetahuan merupakan pintu utama bagi pembentukan peradaban.
Sepanjang sejarah, dunia Islam melahirkan banyak ulama dan ilmuwan yang menjadikan ilmu sebagai instrumen untuk memahami kehidupan secara komprehensif, termasuk dalam bidang ekonomi.
Konsep muamalah dalam Islam memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi bukan sekadar urusan duniawi, melainkan bagian dari tanggung jawab moral manusia. Islam mengatur secara rinci berbagai praktik ekonomi seperti perdagangan, transaksi, utang-piutang, pengelolaan harta, hingga distribusi kekayaan. Prinsip-prinsip seperti keadilan, transparansi, kejujuran, serta larangan riba merupakan landasan etis dalam praktik ekonomi yang berkeadilan.
Al-Qur’an sendiri memberikan perhatian besar terhadap persoalan ekonomi. Banyak ayat yang berbicara tentang perdagangan yang jujur, pengelolaan kekayaan secara amanah, serta kewajiban zakat sebagai instrumen distribusi ekonomi. Prinsip-prinsip tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dalam Islam selalu terkait dengan tanggung jawab sosial dan moral.
Agenda Penting
Namun, kita tahu, penerapan nilai-nilai muamalah yang ideal tidak dapat dilepaskan dari pemahaman ekonomi yang memadai. Tanpa pengetahuan ekonomi, masyarakat akan kesulitan membedakan praktik ekonomi yang adil dengan yang eksploitatif.
Banyak persoalan ekonomi modern—seperti praktik riba terselubung, spekulasi keuangan, atau ketimpangan distribusi—memerlukan analisis yang berbasis ilmu pengetahuan agar dapat dipahami secara tepat.
Karena itu, pendidikan ekonomi masyarakat menjadi agenda yang sangat penting. Edukasi ekonomi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung keuntungan atau kerugian, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan memahami struktur ekonomi yang lebih luas.
Dengan literasi ekonomi yang baik, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih rasional, mengelola sumber daya secara bijak, serta berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan ekonomi.
Di sinilah lembaga pendidikan tinggi memiliki peran strategis. Perguruan tinggi ekonomi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang memiliki kompetensi teknis, tetapi juga membangun tradisi intelektual yang mampu menjembatani ilmu ekonomi dengan nilai-nilai moral dan sosial. Kampus harus menjadi ruang produksi pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kehadiran STIE Hidayatullah menjadi salah satu contoh penting dalam upaya tersebut. Institusi ini memiliki posisi strategis dalam mengembangkan pendidikan ekonomi yang tidak hanya berbasis analisis akademik, tetapi juga berakar pada nilai-nilai Islam dalam praktik muamalah. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan ekonomi tidak berhenti pada aspek teknokratis, tetapi juga membangun kesadaran etis dalam aktivitas ekonomi.
STIE Hidayatullah dapat memainkan peran penting dalam memperkuat literasi ekonomi masyarakat melalui riset, pengajaran, serta pengabdian kepada publik. Kampus ini memiliki potensi untuk melahirkan generasi ekonom yang memahami dinamika ekonomi modern sekaligus memiliki komitmen terhadap prinsip keadilan dan keberkahan dalam aktivitas ekonomi.
Dalam jangka panjang, tradisi intelektualisme yang kuat akan melahirkan masyarakat yang lebih matang dalam menghadapi perubahan ekonomi. Masyarakat yang memiliki literasi ekonomi tinggi tidak mudah terjebak dalam praktik ekonomi yang merugikan, serta lebih mampu memanfaatkan peluang yang muncul dalam dinamika ekonomi global.
Pada akhirnya, masa depan ekonomi suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau kekuatan pasar, tetapi juga oleh kualitas pengetahuan masyarakatnya.
Tradisi intelektual yang hidup, pendidikan ekonomi yang kuat, serta integrasi nilai-nilai muamalah Islam merupakan fondasi penting bagi pembangunan ekonomi yang adil dan berkelanjutan.
Dalam kerangka inilah peran lembaga pendidikan seperti STIE Hidayatullah menjadi sangat relevan sebagai bagian dari solusi untuk membangun masyarakat yang cerdas secara ekonomi dan berintegritas dalam menjalankan aktivitas muamalah sehari-hari.[]
*) Veri Muldani, M.M., penulis alumni dan kini mengabdi di STIE Hidayatullah






