Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menegaskan pentingnya integritas sebagai fondasi utama bagi lulusan perguruan tinggi dalam memasuki kehidupan profesional dan sosial.
Pesan tersebut disampaikan dalam Wisuda ke-XIV Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok pada Ahad (26/10/2026), ketika ia diminta membahas tema integritas dan daya saing dalam waktu sepuluh menit.
Mengawali pemaparannya, dengan gaya khasnya yang jenaka Naspi menyampaikan bahwa membicarakan dua tema besar tersebut dalam waktu singkat bukan perkara ringan. Ia mengibaratkannya seperti meminta Persikabo menundukkan Real Madrid hanya dalam sepuluh menit.
“Ngeri-ngeri sedap,” ujarnya setengah bercanda, menggambarkan tantangan itu. Meski demikian, ia memilih memusatkan pembahasan pada integritas, sementara aspek daya saing menjadi bagian yang dibahas Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muzakkir, M.Ed., Ph.D., yang pada kesempatan tersebut didapuk menyampaikan pidato ilmiah.
Naspi kemudian menggambarkan kondisi integritas melalui perumpamaan sebuah rumah mewah dengan fondasi dan tiang berbahan karton atau styrofoam yang dibungkus agar tampak kokoh. Dari luar, bangunan itu terlihat kuat, tetapi struktur dasarnya rapuh.
Menurutnya, gambaran tersebut relevan untuk menjelaskan pentingnya integritas yang tidak cukup dibangun melalui penampilan, gelar, atau pengakuan formal, melainkan harus berakar pada karakter dan tindakan nyata.
Ia mengaitkan persoalan integritas dengan perjalanan bangsa Indonesia. Naspi mengingatkan bahwa bangsa dan negara ini merupakan warisan perjuangan para ulama, kiai, dan pejuang kemerdekaan.
Dalam konteks Hari Santri pada 22 Oktober yang baru baru ini diperingati, ia menyinggung Resolusi Jihad yang digaungkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Karena itu, menurutnya, generasi terdidik tidak semestinya berjarak dari tanggung jawab kebangsaan yang diwariskan para pendahulu.
Naspi menilai kemampuan akademik dan kapasitas anak bangsa telah terbukti dalam berbagai bidang, termasuk sains dan olahraga. Namun, capaian tersebut perlu disertai integritas. Ia menyoroti pemberitaan mengenai orang-orang berpendidikan tinggi yang tersangkut perkara korupsi serta oknum agamawan yang melakukan tindakan tidak etis. Fenomena tersebut, terangnya, menunjukkan bahwa kecerdasan dan kedudukan sosial tidak otomatis menjamin kualitas moral seseorang.
Pesan Kepada Wisudawan Sarjana


Kepada para wisudawan, Naspi juga mengingatkan agar kelulusan tidak semata-mata dimaknai sebagai momentum memperoleh gelar dan mencari pekerjaan. Ia mengutip pemikiran pendiri Hidayatullah, almarhum Ustadz Abdullah Said, mengenai kecenderungan manusia berada di alam pernyataan, bukan alam kenyataan. Baginya, integritas menuntut kesesuaian antara nilai yang diucapkan dan tindakan yang diwujudkan, termasuk komitmen untuk memberi dan berkorban bagi kepentingan yang lebih luas.
Pesan tersebut diperkuat melalui penekanannya bahwa lulusan harus mengembangkan karakter kepemimpinan, bukan sekadar mengejar status sebagai pimpinan. Naspi membedakan keduanya: orang yang menjaga karakter pemimpin akan berkomitmen melayani dan berkorban, sedangkan mereka yang hanya mengejar jabatan rentan lebih mengutamakan keinginan untuk dilayani.
Menurutnya, ambisi terhadap kedudukan tanpa karakter kepemimpinan dapat menjadi salah satu sumber persoalan dalam kehidupan berbangsa.
Menutup pesannya, Naspi menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati, apa pun program studi yang mereka tempuh. Ia menegaskan bahwa gelar akademik yang berhasil digapai harus menjadi bekal untuk menjalankan tanggung jawab secara jujur dan bermanfaat. (cha/adm)






