Suasana haru menyelimuti gelaran Wisuda XIV Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok pada Ahad (26/10/2026) ketika Ridho Annajmi berdiri di atas mimbar mewakili seluruh wisudawan untuk menyampaikan pidato kesan dan pesan alumni.
Pemuda asal pedalaman Rokan Hilir, Riau, tersebut membagikan perjalanannya yang sarat perjuangan sebagai anak laki-laki tunggal dari enam bersaudara yang berhasil menjadi sarjana pertama di dalam keluarganya.
Kehadirannya di atas panggung bukan sekadar merayakan keberhasilan akademis, melainkan menjadi simbol kemenangan atas keterbatasan dan keteguhan meraih cita-cita.
Perjalanan Ridho menuju jenjang perguruan tinggi diwarnai ujian yang tidak ringan. Terlahir dari keluarga sederhana, ia memberanikan diri merantau ke Pulau Jawa demi mengejar impian kuliah gratis untuk membahagiakan orang tuanya.
Namun, asa tersebut sempat luluh lantak ketika ia menjadi korban penipuan oleh oknum yang menjanjikan beasiswa tersebut. Di tengah kebingungan dan keputusasaan di tanah rantau, takdir membawanya menemukan informasi beasiswa berasrama di STIE Hidayatullah Depok.
Kampus ini menjadi tempat baginya untuk menata kembali harapan yang sempat retak, sekaligus menempa karakter, kepemimpinan, dan kecakapan sosial.
Mengenang Sang Ayah
Suasana semakin emosional saat Ridho mengenang almarhum ayahnya yang berpulang ke hadirat Allah SWT dua bulan sebelum hari kelulusannya tiba.
Kehilangan sosok penopang hidup di ambang kelulusan menjadi ujian terberat dalam hidupnya. Ridho menguraikan betapa ia merindukan kehadiran sang ayah untuk menyaksikan perjuangan yang kini telah berbuah manis.
Di hadapan hadirin, ia menyampaikan pesan bakti yang menggetarkan. “Ayah, terima kasih. Anakmu sudah sampai,” katanya, yang tak kuasa menitikkan air mata.
Ridho mengenang sosok istimewa dalam hidupnya itu. Ia meneguhkan pesan bahwa bahwa setiap tetes keringat dan doa sang ayah tidak pernah sia-sia, meski perayaan kemenangan ini harus dilewati dalam keheningan doa.
Sebagai penutup pidatonya, Ridho menyampaikan pesan bagi sesama wisudawan agar terus belajar, menjaga silaturahmi, berpikir kritis serta solutif, dan tidak cepat berpuas diri atas gelar yang diraih.
Ia turut mengingatkan hadirin untuk memeluk dan berbakti kepada orang tua selagi mereka masih ada. Ridho menekankan bahwa kepulangan para lulusan membawa amanah besar untuk mengamalkan ilmu demi kemaslahatan masyarakat luas. (cha/adm)






