Wisuda XIV STIE Hidayatullah Tekankan Pendidikan Holistik dan Daya Saing di Era Kecerdasan Buatan

Sidang Senat Terbuka Wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah menilik pendidikan holistik dan daya saing di era kecerdasan buatan. Pembahasan itu diketengahkan oleh Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muzakkir, M.Ed., Ph.D., saat menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Pendidikan Holistik Berbasis Tauhid: Transformasi Generasi Berintegritas dan Berdaya Saing di Era Kecerdasan Buatan” pada acara Wisuda XIV STIE Hidayatullah Depok, Ahad (26/10/2026).

Dalam orasinya, Muzakkir mengkritisi makna kesarjanaan yang secara etimologis berakar dari bahasa Sanskerta, sajjana—artinya sosok bijaksana dan berbudi luhur—yang kini berhadapan dengan realitas kemiskinan struktural serta krisis moral bangsa. Berdasarkan data BPS per Maret 2026, populasi miskin di Indonesia masih mencapai 22,93 juta jiwa.

“Di tengah himpitan ekonomi tersebut, kita dipertontonkan pada pemandangan yang mengiris hati, yaitu dekadensi moral generasi muda dalam merengkuh kesuksesan finansial,” ujar Muzakkir menegaskan urgensi evaluasi perjalanan keilmuan para lulusan perguruan tinggi.

Fenomena kecurangan finansial korporasi, maraknya judi online, jerat pinjaman online ilegal, hingga kejahatan berbasis Artificial Intelligence (AI) disoroti dia sebagai ancaman nyata peradaban saat ini. Muzakkir menukil Forum Ekonomi Dunia yang memproyeksikan teknologi AI akan menggeser 92 juta pekerjaan hingga tahun 2030, sekaligus berpotensi menjadi pengganda kerusakan jika dioperasikan tanpa kendali etika.

Muzakkir menilai kerentanan moral ini bersumber dari kegagalan epistemologis sistem pendidikan modern yang didominasi taksonomi Bloom secara mekanistik. Sistem tersebut dinilai hanya berfokus mendewakan Higher Order Thinking Skills (HOTS) tanpa dibekali kompas moral spiritual.

“Pendidikan direduksi sekadar menjadi pabrik pencetak otak yang cerdas secara teknis analitis, namun steril dari nilai-nilai integritas spiritual,” ungkapnya.

Sebagai jalan keluar dari kelemahan kognitivisme sekuler maupun ketertinggalan nalar ilmiah, Muzakkir menawarkan rekonstruksi epistemologi berbasis surah Al-‘Alaq ayat pertama. Pendekatan Iqra’, jelas dia, merepresentasikan perintah riset, eksplorasi nalar, dan penguasaan sains, sedangkan Bismirabbik berfungsi mengikat seluruh aktivitas intelektual pada nilai tauhid serta wahyu.

Perpaduan ini, kata Muzakkir, memastikan ilmu pengetahuan tidak bebas nilai (value free), melainkan terarah pada pengabdian kepada Sang Pencipta. “Iqra’ adalah perintah ilmu, nalar, dan riset. Bismirabbik adalah perintah tauhid, nilai, dan arah,” papar Muzakkir menjelaskan fondasi filosofis pendidikan holistik berbasis tauhid.

Muzakkir mengartikulasikan model pendidikan ini secara terpadu melalui lima domain utama, yaitu, keimanan (faith), pengetahuan (knowledge), nilai (value), keterampilan (man), dan sosial kemasyarakatan (civilization).

Dia menjelaslan, domain keimanan, pengetahuan, dan nilai berkolaborasi membentuk karakter Abdullah atau sosok yang berintegritas spiritual. Sementara itu, domain keterampilan dan sosial kemasyarakatan mencetak kapasitas Khalifatullah yang memiliki daya saing peradaban serta solutif terhadap problem keumatan.

Muzakkir menekankan bahwa misi utama pengintegrasian kelima domain ini adalah melahirkan Insan Rabbani yang paham agama secara mendalam sekaligus cakap menjawab tantangan nyata masyarakat.

Bagi lulusan STIE Hidayatullah, Muzakkir menambahkan, implementasi praktis konsep ini diwujudkan lewat pencetakan Ekonom Rabbani yang memegang teguh lima prinsip ekonomi Islam. Prinsip tersebut meliputi pemaknaan harta sebagai amanah relatif, optimalisasi instrumen keuangan sosial digital (ZISWAF), penolakan tegas atas riba, gharar, penerapan sistem bagi hasil (risk sharing), serta komitmen pelestarian lingkungan (imarat al-ardh).

“Jadilah ekonom-ekonom yang tidak hanya piawai membaca grafik pasar dan menggunakan teknologi AI, tetapi juga tajam membaca nurani umat,” pesan Muzakkir memungkasi orasinya sembari mendorong para sarjana baru menjadi pelopor peradaban tauhid. (cha/adm)

Bagikan:

Related Post