DEPOK – Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah, Muhammad Saddam, S.E., M.Ak., menjadi pembicara utama dalam agenda Diseminasi Nasional Penelitian dan Pengabdian IX yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom, Rabu (29/7/2026).
Dalam paparannya yang bertajuk “Kepemimpinan Perguruan Tinggi Ekonomi dalam Membangun Ekosistem Inovasi, Kewirausahaan, dan Daya Saing di Era Digital”, Saddam menggarisbawahi urgensi peran aktif perguruan tinggi ekonomi di tengah perubahan digital yang masif.
Ia membuka presentasi dengan data yang menggambarkan tantangan serius. Rasio wirausaha mapan Indonesia terhadap angkatan kerja per Februari 2026 masih berada di angka 3,43%—jauh dari target Perpres No. 2/2022 yang menargetkan 8% pada tahun 2045. “Ini ibarat sedekade jalan di tempat,” ujar Saddam mengomentari stagnasi tersebut.
Lebih lanjut, ia membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya yang disebutnya “tertinggal di kawasan sendiri”. Di sisi lain, potensi ekonomi digital Indonesia justru terbuka lebar. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, GMV ekonomi digital Indonesia mencapai $71 miliar pada 2025, didorong lonjakan video commerce sebesar 90% year on year, dengan proyeksi optimistis mencapai $340 miliar pada 2030 bila adopsi AI berjalan lebih cepat.
“Kenapa perguruan tinggi ekonomi harus menjadi aktor kunci, bukan sekadar penonton dari perubahan ini?” tanya Saddam, mengajak seluruh peserta merenungkan posisi strategis institusi pendidikan tinggi.
Dalam kesempatan itu, ia memaparkan tiga peran yang harus dijalankan secara serentak oleh perguruan tinggi ekonomi: sebagai pusat pengetahuan aplikatif di mana riset tidak berhenti di jurnal tetapi memiliki jalan turun ke praktik, kebijakan, dan produk; sebagai pabrik talenta wirausaha melalui kurikulum yang membiasakan mahasiswa mengambil risiko terukur; serta sebagai jembatan lintas pemangku kepentingan yang menyambungkan kampus, industri, pemerintah, dan masyarakat.
Saddam juga mengangkat konsep enam dimensi kewirausahaan akademik berdasarkan tinjauan sistematis periode 2018-2024, serta menekankan bahwa daya saing digital bukan soal siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi, melainkan kelincahan institusi dalam beradaptasi.
Menutup paparannya, ia menyoroti pentingnya modal sosial yang kerap terlewat, yaitu nilai-nilai kepemimpinan yang menjadi fondasi ekosistem inovasi berkelanjutan: amanah dalam mengelola sumber daya dan kepercayaan publik, ijtihad dalam mengambil keputusan dan berinovasi di tengah ketidakpastian, serta gotong royong sebagai kolaborasi lintas pihak yang menopang keberlanjutan.
“Jangan berhenti menjadi penghasil paper. Jadilah arsitek ekosistem yang menyambungkan riset, pengabdian, dan dunia usaha menjadi dampak nyata,” pungkas Saddam mengakhiri presentasinya.
Diseminasi Nasional Penelitian dan Pengabdian IX yang digelar secara daring melalui Zoom ini merupakan rangkaian dari agenda Seminar Nasional 2026 yang sebelumnya telah dimatangkan melalui rapat koordinasi enam perguruan tinggi pada awal Juni lalu. Seminar nasional dengan tema “Sinergi Penguatan Pendidikan, Teknologi, Sosial Humaniora, Ekonomi dan Bisnis di Era Digital” rencananya akan berlangsung di Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) dengan luaran berupa IKU 5 dan prosiding.




