Webinar IKA STIE Hidayatullah Soroti Pengelolaan Sampah sebagai Solusi Krisis Lingkungan

Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (IKA-STIE) Hidayatullah menyelenggarakan webinar bertajuk Mengubah Sampah Jadi Emas pada Ahad (26/7/2026). Acara ini menghadirkan Farid Aulia Rahman, selaku Koordinator Lokal Climate Fresk Indonesia sekaligus Co-Founder Kertabumi, yang memaparkan kondisi terkini serta strategi keberlanjutan pengelolaan limbah di Indonesia.

Farid menyoroti urgensi penanganan masalah lingkungan di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Ia membuka pemaparannya dengan menggarisbawahi kondisi bumi yang saat ini menghadapi Tiga Krisis Planet.

Fenomena tersebut mencakup perubahan iklim yang ditandai dengan pemanasan global, polusi dan limbah/sampah yang mencemari udara, tanah, serta air, hingga hilangnya keanekaragaman hayati yang memicu kepunahan spesies dan kerusakan ekosistem.

Ketiga krisis ini menurut Farid menjadi latar belakang diperlukannya transformasi dalam memandang residu aktivitas manusia bukan sekadar beban, melainkan potensi ekonomi.

Dia menyebutkan, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2026, timbulan sampah di Indonesia telah mencapai angka 24.883.376,49 ton per tahun. Dari total volume tersebut, tingkat sampah yang berhasil terkelola secara nasional baru menyentuh angka 35 persen atau setara dengan 8.596.505,79 ton per tahun.

“Kondisi ini menunjukkan adanya celah besar dalam sistem pengelolaan sampah nasional yang memerlukan perhatian lintas sektor,” katanya dalam webinar yang dimoderatori oleh Ketua IKA-STIE Hidayatullah Syamsuddin ini.

Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa sektor rumah tangga menjadi kontributor terbesar dengan persentase mencapai 56,71 persen atau sebanyak 7.264.751,96 ton per tahun. Secara spesifik, komposisi sampah berdasarkan jenisnya didominasi oleh sisa makanan sebesar 40,71 persen dan plastik sebesar 20,4 persen.

Sementara sisanya terdiri dari kayu/ranting, kertas/karton, logam, kain, kaca, serta material lainnya. Dominasi limbah organik dari rumah tangga ini, kata Farid, memperkuat kebutuhan akan mekanisme pemilahan sejak dari sumbernya.

Sebagai langkah solutif, Farid menjelaskan mekanisme Bank Sampah sebagai instrumen utama dalam ekonomi sirkular. Hingga tahun 2026, Indonesia tercatat memiliki lebih dari 27.631 Bank Sampah yang tersebar di berbagai wilayah. Konsep yang pertama kali dicetuskan oleh Bambang Suwerda pada tahun 2008 ini mendorong masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah dari rumah sebelum dibawa ke Bank Sampah untuk ditimbang, dicatat dalam buku tabungan, dan disalurkan ke industri daur ulang.

Strategi keberlanjutan yang ditawarkan dalam forum ini menitikberatkan pada upaya menemukan titik tengah ‘ekuilibrium’ antara perkembangan ekonomi dan kesinambungan lingkungan-sosial. Dalam konseo sustainability strategy, aspek “save the world” yang merepresentasikan tuntutan lingkungan ditekankan Farid harus bersinergi dengan aspek “make money” yang mewakili potensi ekonomi.

“Melalui pendekatan yang tepat, masyarakat dapat menerapkan prinsip ‘ubah sampah, jadi berkah’ guna mencapai keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam,” tegansya menandaskan.

Bagikan:

Related Post