JAKARTA – Sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah turut hadir dalam acara Kick Off Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu yang digelar Bank Indonesia (BI) di Kompleks BI, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Acara yang mengusung tema penguatan ekonomi kerakyatan ini dihadiri langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta para pimpinan kementerian dan perbankan. Kehadiran mahasiswa STIE Hidayatullah menjadi bagian dari upaya kampus untuk memperluas wawasan dan keterlibatan aktif dalam program strategis nasional yang berdampak langsung pada pengembangan ekonomi berbasis pesantren dan UMKM.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam sambutannya menegaskan bahwa program ini merupakan komitmen bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pelatihan kewirausahaan terpadu.
“Program ini merupakan komitmen dari BI, pemerintah, dan mitra strategis BI untuk UMKM guna mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pelatihan kewirausahaan terpadu, kemandirian UMKM, sekaligus untuk penciptaan lapangan kerja dan ekonomi kerakyatan,” ujar Perry di hadapan para peserta.
Perry menjelaskan program ini lahir dari tiga alasan utama. Pertama, ketidakpastian global yang tinggi akibat perang dagang dan konflik geopolitik menuntut Indonesia untuk semakin mandiri secara ekonomi. Kedua, UMKM sebagai pilar penting perekonomian nasional dengan kontribusi 60,5 persen terhadap PDB dan penyerapan 90 persen tenaga kerja. Ketiga, program ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.
Yang membedakan program ini dari program sebelumnya adalah skema pembinaan bertahap. Perry menekankan bahwa modal usaha tidak diberikan di awal, melainkan setelah peserta melalui tiga tahapan utama: pendidikan kewirausahaan selama 2 hingga 2,5 bulan, sertifikasi sebagai bukti kompetensi, dan uji coba magang atau sandboxing.
“Kalau untuk maju UMKM yang paling penting dulu pengalaman kita adalah kemampuan wirausahanya. Bukan uangnya dulu. Wirausahanya dulu yang harus dilakukan,” tegas Perry.
Menteri Agama Nasaruddin Umar yang turut hadir memberikan apresiasi atas sinergi yang terjalin dalam pemberdayaan ekonomi pesantren.
“Pesantren bukan hanya episentrum penempatan dan penempaan akhlak dan ilmu agama, tetapi juga mampu tegak mandiri sebagai simpul penggerak ekonomi umat,” ujarnya.
Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu 2026 mencakup empat program unggulan. Pertama, Cangkir Barista yang menargetkan 400 barista bersertifikat internasional per tahun untuk memperkuat industri kopi nasional. Kedua, Citra Nusantara untuk mendorong inovasi produk wastra dengan target 50 inovasi baru pada 2026. Ketiga, Air Berkah Indonesia untuk mengembangkan usaha air minum dalam kemasan (AMDK) berbasis sumber daya lokal di 200 pesantren. Keempat, Tani Berkah untuk mengembangkan green farming dan hidroponik di lingkungan pesantren.
Melalui program ini, Bank Indonesia memanfaatkan jaringan 46 Kantor Perwakilan dengan lebih dari 3.000 UMKM binaan dan 1.500 pesantren yang telah diberdayakan. Program ini dirancang secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari penguatan kapasitas kewirausahaan, pendampingan usaha, inovasi produk, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar ekspor.
Salah seorang mahasiswa STIE Hidayatullah yang hadir, mengaku terinspirasi dengan program ini. “Kami melihat langsung bagaimana kebijakan ekonomi dibuat dan bagaimana peran kami sebagai mahasiswa ekonomi ke depannya. Ini bukan hanya teori, tetapi praktik nyata yang bisa kami pelajari,” ujarnya.
Kehadiran mahasiswa STIE Hidayatullah dalam acara ini menjadi momentum penting bagi kampus untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. Dengan latar belakang keilmuan ekonomi dan bisnis, para mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mendukung program-program pemberdayaan UMKM dan pesantren di masa depan.
Program ini sejalan dengan visi STIE Hidayatullah untuk mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademis tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pengembangan ekonomi umat. Melalui sinergi strategis antara Bank Indonesia, pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan, ekonomi kerakyatan Indonesia diharapkan semakin kuat, inklusif, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

