[Catatan: pada tulisan sebelumnya [Hikmah ‘Menyepi’ Muhammad di Gua Hira dan Kepedulian Sosial Ekonomi Umat], penulis menganalisis relevansi tahannuts Nabi Muhammad SAW dengan masalah sosial di masanya. Tahannuts menjadi upaya pencarian kebenaran hakiki di tengah kegagalan sistem sosial dan institusi agama saat itu dalam memberikan solusi transendental. Pada tulisan kedua di bawah ini, penulis menguraikan perjalanan spiritual Nabi Muhammad di Gua Hira dengan proses tiga fase untuk melakukan muhasabah dan menghadapi kegelisahan batin demi menemukan kebenaran yang hakiki]. Selamat membaca:
JIKA kita membaca sejarah dan mencoba melakukan periodesasi ber-Gua Hira, maka dapat diuraikan ada tiga fase, yaitu, Fase awal ber-Gua Hira, Fase menerima wahyu, dan Fase penasbihan sebagai Rasul.
Fase awal ber-Gua Hira ditandai dengan ketertarikan Nabi Muhammad untuk olah rasa sebagaimana yang dilakukan oleh para orang baik di Mekkah untuk bertafakkur di Gua Hira. Fase kedua ialah fase Nabi Muhammad mulai menerima wahyu dalam bentuk mimpi sebagaimana diuraikan Ibnu Ishaq menukil dari Az-Zuhri yang meriwayatkan dari Aisyah Radhialluanha:
“Sesungguhnya wahyu yang pertama kali yang diterima Rasulullah Shallalahu ’alaihi wa Sallam ketika Allah berkehendak memuliakannya dan memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya dengannya ialah mimpi yang benar. Dan tidaklah beliau bermimpi dalam tidurnya, kecuali pasti beliau melihatnya laksana rekahan sinar pagi.”
Atas dasar wahyu yang diterima oleh beliau inilah kemudian Nabi Muhammad memasuki fase ber-Gua Hira ketiga sebagai bentuk pengukuhan iman beliau dan kemudian ditasbihkan menjadi seorang Rasul. “Mulai saat itu, Allah menjadikan Rasulullah Shallalahu ’alaihi wa Sallam suka menyendiri dan tidak ada pekerjaan yang lebih disukainya lebih dari menyendiri (khalwat).”
Fase ketiga adalah fase penasbihan beliau sebagai Rasul dengan turunnya surat Al-Alaq sebagaimana diuraikan oleh Ibnu Hisyam yang menukilkan Ibnu Ishaq:
“…Lalu aku keluar dari Gua Hira. Ketika aku berada di tengah-tengah gunung, tiba-tiba kudengar sebuah suara dari langit: ‘Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah sedangkan aku adalah Jibril.’ Aku dongakkan kepalaku ke langit, saat itu kulihat Jibril dalam sosok seorang laki-laki yang membentangkan kedua kakinya ke ufuk langit. Jibril berkata lagi: ‘Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah sedangkan aku adalah Jibril.’ Aku berdiri melihatnya di tempat bagaikan patung. Aku arahkan pandanganku pada di ufuk langit yang lain, tidaklah aku mengarahkan pandanganku ke arah mana pun kecuali aku lihat dia berada di sana. Aku berdiri diam terpana bagaikan patung hingga akhirnya istriku Khadijah mengirim pelayan-pelayannya untuk mencariku. Mereka tiba di Mekkah atas dan kembali pada Khadijah, sementara aku tetap berada di tempatku semula. Lalu diapun menghilang dariku.”
Ini adalah titik puncak dari seluruh perjalanan ber-Gua Hira. Setelah bertahun-tahun menyendiri, menanggung kegelisahan, mencari kebenaran yang tidak bisa ia temukan di mana pun, jawaban itu datang bukan dalam bentuk yang ia bayangkan.
Bukan wahyu yang tenang dan menyejukkan, tapi sesuatu yang mengguncang hingga beliau berlari pulang gemetar dan meminta diselimuti. Uzlah tidak menjamin ketenangan. Ia menjamin kejujuran, dan kejujuran terkadang datang dengan guncangan.
Hikmah Fase Ber-Gua Hira
Melakukan tahannuts atau uzlah mampu membawa kita pada satu pemahaman dan kesadaran yang lebih dalam tentang ujung pangkal dari kehidupan kita. Syeikh Ramadhan Al-Buthy mengatakan dalam tarikhnya bahwa:
“Seorang Muslim tidak akan sempurna keislamannya. Betapapun ia telah memiliki akhlak-akhlak yang mulia dan telah melaksanakan segala macam ibadah, sebelum menyempurnakannya dengan waktu-waktu ‘uzlah dan khalwah (menyendiri) untuk ‘mengadili diri sendiri’ (muhasabatun-nafsi). Merasakan pengawasan Allah dan merenungkan fenomena-fenomena alam semesta yang menjadi bukti keagungan Allah.”
Quraish Shihab menuliskan bahwa kata iqra’ bisa juga dipadankan dengan ariqa, yakni gelisah/sulit. Menyiratkan bahwa jika seseorang gelisah maka ia harus membaca. Seorang tahu supaya tidak gelisah (ariqa), dan bila dia tidak gelisah, maka dia akan tenang dan mantap (aqarra/istaqarra). Ber-tahannuts membantu kita membaca dan terhindar dari gelisah karena membantu kita menemukan dan mengevaluasi diri sendiri.
Ada hal yang menarik dari kaitan iqra’ dan ariqa ini: gelisah bukan musuh yang harus disingkirkan, melainkan sinyal yang harus dibaca. Muhammad SAW tidak lari dari kegelisahannya; ia duduk bersamanya di Gua Hira, membiarkannya bekerja, sampai dari kegelisahan itu lahir sesuatu yang lebih dalam dari sekadar jawaban: lahir kesadaran tentang dari mana kebenaran seharusnya bersumber.
Dan inilah yang paling relevan untuk kita bawa ke konteks Indonesia hari ini. Krisis yang kita saksikan, yaitu #kaburajadulu, #Indonesiagelap, pada dasarnya adalah ekspresi kolektif dari kegelisahan yang sama yang dirasakan Muhammad SAW: masyarakat yang kehilangan kompas.
Yang merasakan bahwa ada yang salah tapi tidak tahu di mana salahnya. Yang mencoba banyak cara tapi tidak ada yang cukup. Kegelisahan itu bukan tanda kelemahan, itu tanda bahwa akal masih bekerja.
Tapi, kegelisahan yang tidak diarahkan ke dalam, yang hanya diumbar ke luar lewat demo, cuitan, dan perdebatan tanpa henti, tidak akan menghasilkan jawaban. Ia hanya menghasilkan kebisingan yang lebih keras.
Uzlah bukan berarti kita berhenti peduli pada dunia. Nabi sendiri, sebelum naik ke Gua Hira, memberi makan orang miskin. Sesudah turun, ia thawaf sebelum pulang. Uzlah adalah langkah mundur yang terukur, untuk kemudian melangkah maju dengan lebih dalam dan lebih jernih.
Masyarakat yang bisa melakukan itu, secara individual maupun kolektif, adalah masyarakat yang tidak hanya bereaksi terhadap zamannya, tapi yang mampu membentuknya.
Epilog
“Why do we fall? So we can learn to pick ourselves up.” (Alfred Pennyworth, Batman Begins)
Boleh jadi Indonesia, baik pejabatnya maupun masyarakatnya, tengah menunggu titik jatuh terdalamnya agar bisa tersadar tentang bodoh dan jahilnya kita dalam menjalani hidup.
Tapi Muhammad SAW tidak menunggu jatuh untuk mulai bertanya. Beliau ber-Gua Hira jauh sebelum krisis itu meledak, bukan karena ia lemah, tapi karena ia cukup jeli untuk melihat bahwa kehancuran sedang berjalan, dan cukup berani untuk mengakui bahwa ia tidak punya jawabannya sendiri.
Itulah yang membedakan seorang pemimpin peradaban dari seorang yang sekadar bereaksi terhadap zaman: yang satu bergerak karena kesadaran, yang lain bergerak karena kepepet.
Dan, bagi orang-orang yang tengah tersadar mungkin alih-alih terus berselancar dan mengikuti gendang para orang gila itu, ada baiknya kita ber-uzlah, menarik diri sembari menanti kabar langit apa yang akan membebaskan kita pada kemerdekaan dan kebenaran hakiki.[]
MUHAMMAD SADDAM






