Hikmah ‘Menyepi’ Muhammad di Gua Hira dan Kepedulian Sosial Ekonomi Umat

LAPORAN berbagai lembaga internasional menunjukkan tekanan yang tidak ringan: Bank Dunia mencatat lebih dari 700 juta orang di dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem pada 2024, sementara laporan ketimpangan global Oxfam menunjukkan kekayaan miliarder dunia terus meningkat lebih cepat dibanding pertumbuhan ekonomi masyarakat luas.

Di Indonesia, Badan Pusat Statistik melaporkan tingkat kemiskinan pada 2024 berada di kisaran 9,36 persen penduduk, sementara rasio gini bertahan sekitar 0,388 yang menandakan jurang distribusi pendapatan masih lebar. Pada saat yang sama, perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta fluktuasi harga pangan dan energi memberi tekanan tambahan bagi rumah tangga.

Di dalam negeri, kenaikan biaya hidup, kelangkaan bursa lapangan kerja, serta gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor industri memperkuat rasa cemas masyarakat. Demonstrasi buruh, kritik terhadap kebijakan ekonomi, hingga perdebatan sengit di ruang publik memperlihatkan bahwa keresahan sosial tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu, tetapi menjalar dari kelas pekerja hingga profesional perkotaan.

Di tengah hingar bingar itu, barangkali kita perlu untuk menepikan dulu dialektika intelektual semata dan mencoba jalan sunyi yang ditempuh Muhammad SAW, ber-gua Hira, untuk menemukan jawaban atas segala masalah yang ada.

Tapi, sebelum kita melangkah ke sana, ada pertanyaan yang perlu kita jawab lebih dulu, karena jalan itu tidak bisa ditempuh tanpa memahami mengapa ia perlu ditempuh. Apa yang membuat Muhammad (yang sudah dikenal sebagai Al-Amin, yang hidupnya sudah mapan) merasa perlu berulang kali naik ke gua sempit di puncak bukit itu? Dan, lebih penting lagi: apakah kondisi yang mendorongnya ke sana berbeda jauh dari apa yang kita rasakan hari ini?

Mengapa Nabi Ber-Gua Hira

Kebanyakan sejarawan muslim klasik terutama pada era-era awal seperti Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, Imam At-Thabari, Imam Ibnu Katsir, maupun Imam Ibnu Atsir tidak banyak melakukan analisis mengenai alasan-alasan dilakukannya tahannuts Nabi Muhammad SAW. Hal ini dikarenakan para ulama klasik melakukan penceritaan sirah berdasarkan pada riwayat hadits.

Beberapa pendapat tambahan dilakukan semisal oleh Imam Ibnu Katsir yang itupun juga menukil Ibnu Ishaq bahwa aktivitas bertahannuts ialah aktivitas yang lazim dilakukan oleh para ahli ibadah pada masa itu.

Namun demikian, sejarah yang ditulis oleh para sejarawan muslim klasik memberikan konteks kondisi jazirah Arab sebelum masuk pada pembahasan tentang fase Gua Hira atau fase pengangkatan Nabi Muhammad SAW.

Sejarawan Muslim kontemporer yang kemudian memberikan beberapa analisis mengapa Nabi Muhammad SAW melakukan tahannuts, al-Mubarrakfuri misalnya menyebutkan bahwa sebab Nabi Muhammad ber-tahannuts adalah ketidaknyamanan beliau melihat kondisi kaumnya yang terbelenggu dalam kesyirikan sementara beliau sendiri belum mendapatkan jalan yang terang.

Selain itu, tahannuts adalah skenario Allah agar beliau terputus dari kesibukan-kesibukan duniawi, goncangan kehidupan, dan ambisi-ambisi kecil manusia. Sementara Haikal Hasan menyebutkan bahwa Nabi Muhammad bertahannuts untuk mencari kebenaran atas segala kebingungan yang beliau hadapi.

Kajian sosiologis yang mendalam justru dilakukan oleh para sejarawan barat. Montgomery Watt dalam Muhammad Nabi dan Negarawan misalnya menyampaikan bahwa perubahan budaya Arab lampau, dari ekonomi gembala menuju ekonomi dagang, menyebabkan tatanan yang semula berdasarkan pada solidaritas kesukuan tergantikan oleh semangat individualisme.

Semangat dagang individualisme inilah yang membuat karakter penduduk Mekkah saat itu menempatkan kepentingan usaha di atas segalanya, termasuk menindas anggota masyarakat yang lebih lemah seperti para janda dan anak-anak yatim.

Cukup mirip dengan Watt, Karen Armstrong melihat bahwa pergeseran pola ekonomi yang menyebabkan kemakmuran telah membawa bangsa Arab kala itu masuk pada nilai-nilai kapitalisme tak berperasaan. Kaum Quraisy menjadikan uang sebagai agama baru. Muhammad SAW, menurut Armstrong, melihat bahwa kaum Quraisy berada dalam arah yang berbahaya dan perlu menemukan ideologi baru yang dapat membantu mereka menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru:

“Makkah yang telah menjadi pusat perdagangan dan keuangan internasional merasa telah menjadi penentu nasib mereka sendiri dan sebagiannya meyakini bahwa kemakmuran akan memberi mereka kehidupan yang abadi. Muhammad merasa bahwa kultus baru keswasembadaan (istiqa) ini akan mengakibatkan perpecahan suku…”

Pertanyaan atas uraian Karen Armstrong adalah, mengapa harus ideologi baru? Dan kenapa kemudian, jika kita kembali menukil Sirah Muhammad Haekal Hasan, Muhammad perlu mencari kebenaran hakiki? Mari kita kaji pelan-pelan narasi dari para sejarawan berikut ini.

Dituliskan oleh Ibnu Ishaq kemudian dinukil oleh Ibnu Hisyam, Ibnu Katsir, Muhammad Haikal Hasan, Watt, dan Armstrong bahwa pada saat itu terdapat empat orang kaum Quraisy yang juga mencari kebenaran agama Hanifiyyah, yaitu Ubaidilah bin Jahsy yang merupakan keponakan Muhammad SAW, Waraqah Ibn Nufail yang merupakan paman Khadijah, Zaid bin Amr yang merupakan paman Umar bin Khattab, dan Utsman bin Al-Huwairits.

Diriwayatkan dalam Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam, Waraqah kemudian menganut agama Kristen, namun berbeda dengan Kristen pasca konsili Nicea, ia tetap berpegang pada monoteisme.

Diriwayatkan dalam Ibnu Ishaq, yang juga dinukil oleh Armstrong, pada masa tuanya Zaid bin Amr sambil menyandarkan punggungnya di Ka’bah berkata: “Hai orang-orang Quraisy, demi Tuhan, tidak ada satu pun di antara kalian selain aku yang setia berpegang teguh kepada agama Ibrahim.” Setelah itu, ia berkata: “Ya Allah, andai kata aku mengetahui wajah yang paling Engkau sukai, pasti aku menyembahnya, namun aku tidak mengetahuinya.” Kemudian ia sujud dengan tenang.

Dituliskan oleh Armstrong: “Doktrin Kristen misalnya, membuat nasib abadi setiap individu sebagai nilai yang suci sehingga bagaimana bisa ajaran ini bisa dicocokkan dengan idealisme kesukuan yang menempatkan individu di bawah kepentingan kelompok dan mengajarkan bahwa satu-satunya keabadian manusia terletak pada keberlangsungan hidup suku?”

Dituliskan oleh Armstrong: “Muhammad yakin bahwa jika kaum Quraisy tidak meletakkan nilai transenden lain di pusat kehidupan mereka dan menaklukkan egoisme dan ketamakan mereka, maka suku itu akan terpecah belah secara moral dan politik akibat perselisihan yang keras…”

Dituliskan oleh Muhammad Haikal Hasan: “Ketika itulah ia percaya bahwa masyarakatnya telah sesat dari jalan yang benar dan hidup kerohanian mereka telah rusak karena tunduk pada khayal, semua yang disebutkan oleh masyarakat Yahudi dan Nasrani tidak dapat menolong mereka pada kesesatan itu…”

Dari 6 (enam) nukilan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa sebab Nabi Muhammad melakukan tahannuts disebabkan pada beberapa hal:

Pertama: kesadaran sosial beliau yang tinggi mampu melihat atau memprediksi kehancuran suatu kaum jika terus terjebak pada pola interaksi sosial ekonomi individualistik dan kapitalis. Ini bukan sekadar kegelisahan moral biasa.

Muhammad SAW melihat sesuatu yang kebanyakan orang di sekitarnya tidak sanggup atau tidak mau lihat: bahwa kemakmuran yang sedang dinikmati Quraisy bukan tanda kejayaan, melainkan tanda kehancuran yang sedang berjalan diam-diam.

Individualisme yang menggantikan solidaritas kesukuan tidak menghasilkan masyarakat yang lebih kuat; ia menghasilkan masyarakat yang saling memangsa. Dan tidak ada satu pun sistem yang tersedia saat itu mampu menghentikannya.

Kedua: orang-orang yang memiliki kegelisahan dan kesadaran transendental atau spiritual seperti 4 tokoh di atas juga belum mampu memberikan jawaban hakiki atas masalah yang terjadi, dan tidak disadari di dalam dua agama tersebut sehingga mengganggu muruwah kaum Quraisy.

Ini poin yang paling sering dilewatkan: Muhammad SAW tidak sendirian dalam kegelisahannya. Ada Waraqah, Zaid, Ubaidilah, Utsman: orang-orang terbaik di masanya yang juga mencari. Tapi mereka berhenti di jalan. Waraqah menemukan Kristen tapi tidak bisa merekonsiliasi nilai individualnya dengan idealisme kesukuan Arab.

Zaid menemukan Ibrahim tapi tidak tahu kepada wajah siapa ia harus sujud. Kegelisahan mereka nyata, tapi jawabannya tidak sampai. Muhammad mewarisi semua kegelisahan itu, dan menanggungnya sendirian.

Ketiga: agama samawi yang telah ada sebelumnya juga tidak mampu menjawab kebutuhan dan watak dasar bangsa Arab serta telah terjadinya institusionalisasi keagamaan yang berlebihan dan masuknya semangat politis dalam agama-agama tersebut. Ini adalah krisis epistemik dalam bentuk yang paling telanjang: ketika lembaga-lembaga yang seharusnya menjaga kebenaran justru menjadi penjaga kekuasaan.

Agama tidak lagi menjawab pertanyaan hidup; ia menjadi alat legitimasi bagi yang berkuasa. Dan dalam keadaan itu, seorang yang benar-benar mencari kebenaran tidak punya tempat untuk berpijak. Ia harus kembali ke sumber, jauh melewati semua institusi yang ada.

Keempat: usaha-usaha Muhammad dengan segala aktivismenya sebelum ber-tahannuts mengalami “kegagalan” dikarenakan pada aspek sosial strata klannya bukan termasuk klan yang beruntung, dan pada aspek ekonomi tidak bisa diselesaikan pada lingkup materialitas semata. Ini adalah momen yang paling manusiawi dari seluruh perjalanan ini.

Muhammad sudah mencoba, dengan cara-cara yang tersedia dan sumber daya yang ia miliki. Dan ia gagal. Bukan karena kurang berusaha, bukan karena kurang cerdas, tapi karena masalah yang ia hadapi melampaui kapasitas solusi yang tersedia.

Dan justru di titik kegagalan itulah, ketika semua jalan duniawi sudah ditempuh dan tidak ada yang cukup, uzlah menjadi satu-satunya langkah yang masuk akal. Gua Hira bukan pelarian dari dunia. Ia adalah langkah yang diambil setelah semua langkah lain sudah dicoba.

Kalau kita baca keempat poin ini lalu kita lirik kembali prolog tentang Indonesia, kita akan menemukan kemiripan yang tidak bisa diabaikan. Ada yang melihat kehancuran yang sedang berjalan tapi tidak tahu cara menghentikannya. Ada yang mencari tapi jawaban dari sistem yang ada tidak memadai.

Ada institusi-institusi yang seharusnya menjadi sumber kebenaran tapi sudah terinfeksi kepentingan. Dan ada orang-orang yang sudah mencoba dengan cara-cara yang tersedia, lalu lelah, lalu bertanya: apa yang kurang? Mungkin yang kurang bukan solusi baru; mungkin yang kurang adalah keberanian untuk masuk ke dalam kesunyian dan bertanya dari akar.

Tinjauan Sejarah Fase Ber-Gua Hira

Para sejarawan Muslim berbeda pendapat tentang fase ber-Gua Hira ini, pada usia berapa Nabi Muhammad mulai melakukan aktivitas ber-Gua Hira.

Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam dalam Tarikh-nya tidak menyebutkan pada usia berapa Nabi Muhammad SAW mulai ber-Gua Hira, namun menyampaikan bahwa Nabi Muhammad ber-tahannuts selama sebulan dalam setiap tahun.

Muhammad Husain Haikal dan Quraish Shihab dalam sirahnya juga tidak menyebutkan usia pasti tersebut.

Sementara Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarrakfuri mengungkapkan bahwa keasikan dan kesukaan Nabi Muhammad SAW untuk mengasingkan diri dilakukan tatkala beliau berusia mendekati empat puluh tahun.

Meskipun kita tidak memiliki catatan sejarah yang utuh tentang usia Nabi Muhammad ketika memulai ber-Gua Hira, kita bisa menyimpulkan bahwa beliau melakukan tahannuts tidak hanya sekali dua kali, namun berkali-kali.

Ibnu Katsir meriwayatkan syair Abu Thalib yang menggambarkan betapa lazimnya tradisi ini:

“Demi (pemilik) gunung Tsaur, ada sebahagia orang yang teguh menjadikan gunung Tsabir sebagai tempatnya, Begitu juga ada yang mendaki gunung Hira untuk beribadah/mencari kebaikan atau hanya sekadar menyinggahinya.”

Selama ber-tahannuts, Quraish Shihab menguraikan bahwa proses tahannuts Nabi Muhammad mengikuti syariat Nabi Ibrahim Alaihissalam. Sementara Ibnu Katsir menguraikan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang ritual apa yang dijalani; ada yang menyebutkan mengikuti syariat Nabi Nuh, Musa, Isa, dan ada pula yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad menganut amalan tertentu yang belum dibawakan oleh para Nabi sebelumnya.

Namun para ulama bersepakat bahwa Nabi Muhammad melakukan tafakkur, perenungan, zikir, dan proses syukur selama beliau melakukan tahannuts di Gua Hira. Ibnu Ishaq sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hisyam menguraikan:

“Beliau memberi makan siapa di antara orang-orang miskin yang mendatangi beliau, dan apabila Rasul telah selesai menyelesaikan keberadaan beliau di sana, selama sebulan itu, yang pertama beliau lakukan adalah datang ke Ka’bah sebelum kembali ke rumah beliau untuk berthawaf sebanyak tujuh keliling atau sebanyak yang dikehendaki Allah.”

Perhatikan detail kecil ini: sebelum naik ke Gua Hira, ia memberi makan orang miskin. Sesudah turun, ia thawaf dulu sebelum pulang ke rumah. Uzlah Nabi bukan pertapaan yang memutus hubungan dengan dunia, ia adalah jeda yang terstruktur, berangkat dari kepedulian dan kembali dengan cara yang beradab.[]

MUHAMMAD SADDAM

Bagikan:

Related Post