Ramadhan dan Kedaulatan Rakyat

KITA hidup di zaman yang aneh. Di satu sisi, arus informasi begitu deras, setiap orang bisa tahu apa saja, kapan saja. Di sisi lain, justru semakin banyak orang yang kehilangan kemampuan untuk memimpin satu hal paling mendasar: dirinya sendiri. Gawai lebih dituruti dari akal. Tren lebih ditaati dari nurani.

Dan dalam keramaian digital yang tak pernah berhenti itu, Ramadhan datang membawa tawaran yang terasa kontras; diamlah sebentar, kendalikan dirimu, dan buktikan bahwa kamu masih tuan atas dirimu sendiri.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda sesuatu yang pendek, tapi jika direnungkan sungguh-sungguh, bisa mengubah cara kita memandang seluruh kehidupan berbangsa:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” HR. Bukhari & Muslim

Kata kuncinya bukan ra’in, “pemimpin”. Kata kuncinya adalah kullukum, “setiap kalian”. Hadits ini tidak sedang berbicara tentang jabatan, ia sedang berbicara tentang hakikat manusia itu sendiri.

Setiap manusia, tanpa terkecuali, lahir dengan satu wilayah yang tidak bisa direbut oleh kekuasaan manapun: dirinya sendiri. Dan atas wilayah itulah ia adalah pemimpin yang sekaligus akan dimintai pertanggungjawaban.

Dari sini kita bisa membaca Ramadhan dengan cara yang berbeda. Puasa bukan hanya ritual tahunan. Ia adalah latihan kedaulatan diri yang paling konkret dan paling merata yang pernah ada. Tidak ada yang bisa memverifikasi apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Tidak ada inspektur, tidak ada kamera, tidak ada sanksi duniawi. Yang membuat seseorang tetap berpuasa saat sendirian dan sangat haus hanya satu: kesadaran dari dalam. Itulah kedaulatan, bukan sekadar patuh karena diawasi tapi taat karena memilih untuk taat.

Dan, dari kedaulatan diri inilah, Islam membangun seluruh logika kepemimpinannya.

Manusia memang tidak hidup sendirian, kita berbangsa, bersuku, berkeluarga, berorganisasi. Kedaulatan individual yang sudah kita latih itu akhirnya harus bernegosiasi dengan kehidupan bersama, dan dari sanalah lahir pertanyaan yang selalu jadi rebutan: siapa yang paling layak memegang amanah memimpin? Al-Quran menjawabnya dengan ukuran yang tidak bisa diperjualbelikan:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” QS. Al-Hujurat: 13

Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling banyak pendukungnya. Bukan yang paling lihai membangun koalisi. Standarnya adalah taqwa yang dalam praktiknya berwujud kebermanfaatan nyata bagi orang-orang di sekitarnya. Dan untuk menggambarkan seperti apa orang yang taqwanya sudah sungguh-sungguh meresap ke dalam, Allah memakai gambaran yang luar biasa indah dalam surat An-Nur:

ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَـٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, dan tabung kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya.” QS. An-Nur: 35

Perhatikan gambaran itu baik-baik. Allah-lah sumber cahaya itu, bukan manusia. Tapi cahaya yang sama bisa menembus dengan cara yang berbeda tergantung apa yang ada di hadapannya. Ada permukaan yang menyerapnya hingga lenyap, ada yang memantulkannya kembali, dan ada yang meneruskannya hingga menerangi lebih jauh.

Orang yang taqwanya benar-benar bersih ibarat kaca yang jernih itu: ia tidak menghalangi cahaya Allah, justru meneruskannya ke sekitarnya. Kebaikannya bukan karena ingin terlihat baik, tapi karena jiwanya sudah cukup bersih untuk dilewati oleh cahaya itu. Itulah yang disebut nūrun ‘alā nūr — cahaya di atas cahaya. Ia bercahaya bukan karena dirinya, tapi karena Tuhan yang bersemayam dalam kesadarannya.

Ketika orang semacam itu yang diberi amanah memimpin, yang ia bawa bukan nafsu untuk dilayani, melainkan dorongan untuk melayani. Dan karena ia sungguh-sungguh memahami bahwa setiap orang yang berdiri di hadapannya juga adalah pemimpin atas dirinya sendiri, ia tidak akan pernah merasa perlu untuk merendahkan siapapun agar bisa terlihat tinggi. Jabatan hanyalah pembagian peran, bukan perbedaan derajat kemanusiaan.

Relasi yang sehat antara pemimpin dan rakyat, dalam kacamata ini, bukan relasi antara atasan dan bawahan. Ia adalah relasi antara dua kedaulatan yang saling menghormati, saling menanggung, dan saling mengingatkan. Tradisi Jawa menangkap esensi ini dengan indah lewat ungkapan manunggaling kawula lan gusti; pemimpin yang benar-benar menyatu dengan yang dipimpinnya, bukan yang berdiri jauh di atas rakyatnya.

Tapi, relasi yang sehat ini tidak bisa hanya mengandalkan pemimpinnya. Rakyat yang berdaulat juga memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Sadar bahwa dirinya adalah pemimpin bukan berarti merasa selalu benar. Rakyat yang matang justru mampu mengakui secara jujur bahwa tidak semua orang berada di tingkat yang sama dalam hal taqwa, pengalaman, dan kebijaksanaan.

Dan, dari pengakuan yang jujur itu, lahirlah rasa hormat yang tulus bukan rasa takut. Lahirlah pengawasan yang bertanggung jawab, bukan sekadar sorak-sorai dari tepi yang tak pernah turun tangan.

Dan justru di sinilah ayat As-Sajadah berbicara langsung kepada kita sebagai rakyat:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا

“Kami menjadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, selama mereka bersabar.” QS. As-Sajadah: 24

Perhatikan subjek dalam ayat ini: minhum — dari antara mereka, yakni dari rakyat itu sendiri. Allah tidak menurunkan pemimpin dari langit. Pemimpin yang benar lahir dari dalam komunitas, dari orang-orang biasa yang bersabar, yang bertahan dalam kebenaran, yang merawat taqwanya meski tidak ada yang melihat. Kesabaran rakyat itulah yang melahirkan pemimpin.

Artinya, kualitas kepemimpinan suatu bangsa sesungguhnya adalah cermin dari kualitas rakyatnya sendiri. Jika rakyatnya sudah terbiasa berdaulat atas dirinya, sabar dalam kebenaran, dan bertanggungjawab atas amanahnya masing-masing, maka dari tengah-tengah merekalah akan muncul pemimpin yang layak.

Membaca hadits kullukum ra’in dengan sungguh-sungguh membawa kita pada satu kesimpulan yang membebaskan sekaligus memberatkan: manusia pada dasarnya setara. Jabatan bukan bukti kemuliaan, ia hanya pembagian tanggung jawab di antara orang-orang yang berhimpun dalam satu tatanan bersama.

Yang membedakan manusia bukan kursinya, bukan nama belakangnya, bukan seberapa besar gedung yang ia tempati. Tapi seberapa besar ia bisa bermanfaat, dan seberapa jujur ia mempertanggungjawabkan amanah yang dititipkan kepadanya.

Ramadhan mengajarkan itu setiap tahun, pelan-pelan, satu hari demi satu hari, dari fajar hingga maghrib. Pertanyaannya selalu sama: sudahkah kita benar-benar mendengarkan?.[]

MUHAMMAD SADDAM | Ramadhan 1447
Untuk siapa saja yang sedang belajar memimpin dirinya sendiri

Bagikan:

Related Post