Refleksi Ramadhan Antara Spiritualitas dan Tanggung Jawab Konsumsi

RAMADHAN adalah peristiwa spiritual sekaligus momentum sosial-ekonomi terbesar dalam kehidupan umat Islam. Ia bukan hanya ruang ibadah ritual, tetapi juga ruang pembentukan etika, termasuk etika ekonomi. Dalam perspektif Islam, ibadah tidak terpisah dari muamalah. Kesalehan tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah, tetapi harus tercermin dalam perilaku horizontal, termasuk dalam cara seorang Muslim mengelola konsumsi, produksi, dan distribusi sumber daya.

Namun, realitas empiris menunjukkan adanya paradoks. Bulan yang secara teologis dimaksudkan untuk melatih pengendalian diri justru sering ditandai dengan lonjakan konsumsi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa konsumsi rumah tangga tumbuh 4,91 persen pada triwulan I-2024, dan momentum Ramadhan menjadi salah satu faktor utama peningkatan permintaan, khususnya pada sektor makanan dan minuman. Konsumsi rumah tangga bahkan menyumbang 54,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto, menjadikannya komponen dominan dalam struktur ekonomi nasional.

Fenomena ini konsisten dengan pola historis. Secara tradisional, Ramadhan menjadi periode puncak konsumsi masyarakat Indonesia, dengan kenaikan permintaan yang signifikan menjelang Idul Fitri. Penelitian sektor ritel bahkan menunjukkan peningkatan konsumsi makanan dan minuman dapat mencapai 20–30 persen dibanding bulan biasa. Lonjakan ini berdampak pada tekanan harga, termasuk inflasi bahan pangan yang meningkat karena tingginya permintaan terhadap komoditas seperti beras, daging, dan telur.

Dalam batas tertentu, peningkatan konsumsi adalah fenomena ekonomi yang wajar. Aktivitas ekonomi yang meningkat selama Ramadhan memberikan peluang bagi pelaku usaha mikro, pedagang kecil, dan sektor informal. Perputaran ekonomi ini menjadi sumber penghidupan bagi jutaan orang. Namun, masalah muncul ketika konsumsi berubah menjadi pemborosan.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa volume sampah makanan meningkat hingga 10–20 persen selama Ramadhan dibanding bulan biasa. Bahkan, dalam konteks nasional, sampah makanan rumah tangga Indonesia mencapai jutaan ton setiap tahun, dan peningkatan selama Ramadhan mencapai sekitar 20 persen akibat konsumsi berlebihan dan makanan yang tidak terpakai. Secara harian, peningkatan ini dapat mencapai 100 hingga 200 ton tambahan sampah makanan selama bulan suci.

Angka-angka ini menunjukkan kontradiksi mendasar. Ramadhan yang seharusnya mengajarkan pengendalian diri justru diiringi dengan praktik konsumsi berlebihan. Puasa secara spiritual adalah latihan menahan diri, tetapi secara sosial sering kali berubah menjadi festival konsumsi. Berbuka puasa yang semestinya sederhana berubah menjadi ritual konsumsi yang melampaui kebutuhan.

Paradoks ini memiliki implikasi yang lebih luas. Pemborosan bukan hanya masalah moral, tetapi juga masalah ekonomi struktural. Dalam ekonomi Islam, sumber daya dipandang sebagai amanah. Pemborosan berarti pelanggaran terhadap prinsip efisiensi dan keadilan distribusi. Ketika makanan terbuang, itu bukan sekadar kehilangan materi, tetapi juga kegagalan dalam memenuhi tanggung jawab sosial.

Ramadhan justru seharusnya menjadi laboratorium pembentukan Muslim progresif. Muslim progresif dalam konteks ekonomi bukan sekadar konsumen, tetapi pelaku ekonomi yang rasional, efisien, dan berorientasi pada kebermanfaatan. Islam tidak mengajarkan asketisme ekstrem yang menolak dunia, tetapi juga tidak membenarkan konsumsi tanpa kendali. Islam mengajarkan keseimbangan.

Prinsip ini sangat relevan dalam konteks ekonomi modern. Efisiensi konsumsi adalah fondasi stabilitas ekonomi rumah tangga. Rumah tangga yang disiplin dalam konsumsi memiliki kapasitas lebih besar untuk menabung, berinvestasi, dan membangun ketahanan ekonomi jangka panjang. Sebaliknya, konsumsi impulsif memperlemah stabilitas ekonomi keluarga.

Pondasi Produktivitas

Ramadhan memberikan kesempatan untuk membangun kesadaran ekonomis. Puasa melatih kemampuan menunda kepuasan, sebuah keterampilan yang sangat penting dalam ekonomi modern. Kemampuan menunda konsumsi adalah fondasi investasi. Kemampuan mengendalikan diri adalah fondasi produktivitas. Kemampuan hidup sederhana adalah fondasi keberlanjutan ekonomi.

Dalam perspektif makro, perubahan perilaku konsumsi umat Islam selama Ramadhan memiliki implikasi sistemik. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, perilaku ekonomi umat Islam Indonesia memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi nasional. Konsumsi yang rasional memperkuat stabilitas harga, mengurangi tekanan inflasi, dan meningkatkan efisiensi distribusi sumber daya.

Sebaliknya, konsumsi berlebihan memperburuk ketimpangan dan memperlemah efisiensi ekonomi. Ketika sebagian masyarakat membuang makanan, sementara sebagian lainnya mengalami kerawanan pangan, itu menunjukkan adanya kegagalan etika ekonomi kolektif.

Ramadhan seharusnya mengubah paradigma ekonomi umat. Dari konsumsi menuju kesadaran. Dari pemborosan menuju efisiensi. Dari impulsivitas menuju rasionalitas. Dari sekadar menjadi pasar menuju menjadi pelaku ekonomi yang bertanggung jawab.

Inilah makna terdalam dari puasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membentuk kesadaran. Kesadaran bahwa setiap sumber daya adalah amanah. Kesadaran bahwa setiap konsumsi memiliki konsekuensi moral. Kesadaran bahwa ekonomi bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga soal tanggung jawab.

Pada akhirnya, Ramadhan adalah ujian integritas. Ia menguji apakah umat Islam mampu menerjemahkan nilai spiritual ke dalam perilaku ekonomi. Ia menguji apakah kesalehan berhenti pada ritual, atau menjelma menjadi etika hidup yang konkret.

Kesadaran berislam yang autentik harus tercermin dalam kesadaran bermuamalah. Muslim yang berpuasa seharusnya menjadi Muslim yang lebih disiplin, lebih rasional, dan lebih bertanggung jawab secara ekonomi. Sebab, Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi tentang membangun peradaban ekonomi yang berakar pada kesadaran, keadilan, dan tanggung jawab.

*) Dedev Ruswanda, penulis alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok.

Bagikan:

Tags

Alumni opini

Related Post