ADA tempat kerja yang tampak sangat sibuk tetapi hasilnya biasa saja. Rapat berlangsung hampir setiap hari, pesan masuk tanpa henti, lembur dianggap tanda dedikasi, dan berbagai laporan terus diproduksi. Namun ketika ditanya berapa nilai tambah yang dihasilkan dari semua kesibukan itu, jawabannya tidak selalu jelas.
Di sinilah ilmu manajemen penting dan dibutuhkan. Manajemen bukan sekadar kemampuan mengatur orang, membuat jadwal, atau membagi tugas. Manajemen adalah kemampuan mengubah sumber daya yang terbatas menjadi hasil yang terukur, lalu menggunakan informasi tersebut untuk memperbaiki keputusan.
Persoalan ini penting bagi Indonesia. Ekonomi nasional tumbuh 5,11 persen pada 2025, meningkat dari 5,03 persen pada 2024. PDB Indonesia mencapai Rp23.821,1 triliun. Angka pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus berkembang, tetapi pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti setiap perusahaan, pekerja, atau organisasi telah menjadi lebih produktif.
Ukuran yang lebih dekat dengan persoalan produktivitas adalah output yang dihasilkan setiap orang bekerja. BPS mencatat pertumbuhan PDB riil per orang bekerja Indonesia sebesar 3,75 persen pada 2025. Indikator ini penting karena mengingatkan kita bahwa pertumbuhan ekonomi juga harus dilihat dari kemampuan ekonomi menghasilkan nilai tambah dengan tenaga kerja yang tersedia.
Dengan kata lain, tantangan Indonesia bukan hanya bagaimana menciptakan lebih banyak pekerjaan, tetapi bagaimana membuat setiap pekerjaan menghasilkan nilai yang lebih tinggi.
Di titik ini, manajemen menjadi persoalan ekonomi, bukan sekadar persoalan organisasi.
Perusahaan dapat membeli mesin, memasang perangkat lunak, menggunakan kecerdasan buatan, atau mengadopsi sistem digital. Tetapi teknologi tidak dengan sendirinya menghasilkan produktivitas.
Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), organisasi internasional yang membantu pemerintah di berbagai negara untuk merancang kebijakan demi mendorong pertumbuhan ekonomi, kemakmuran, perdagangan bebas, dan peningkatan standar hidup masyarakat, menunjukkan bahwa manfaat digitalisasi sangat bergantung pada faktor pelengkap seperti perubahan proses bisnis, organisasi kerja, keterampilan, modal organisasi, dan kualitas manajemen.
Data pun tidak otomatis menjadi pengetahuan. Dashboard yang penuh angka tidak berguna apabila pimpinan tidak tahu indikator mana yang benar-benar penting.
Target tidak meningkatkan kinerja apabila target tersebut tidak realistis atau tidak dikaitkan dengan insentif. Evaluasi kinerja juga dapat menjadi kontraproduktif jika hanya berubah menjadi alat mencari kesalahan.
Ilmu manajemen dibutuhkan untuk menjembatani semua itu dalam menentukan tujuan, memilih indikator, mengalokasikan sumber daya, membaca penyimpangan, mengevaluasi kinerja, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti.
Riset internasional memperkuat argumen tersebut. OECD mencatat bahwa praktik manajemen, termasuk monitoring, penetapan target, praktik operasional, dan sistem insentif, berhubungan erat dengan perbedaan produktivitas antarperusahaan.
World Bank juga merangkum berbagai eksperimen yang menunjukkan bahwa perbaikan praktik bisnis dan manajemen dapat meningkatkan produktivitas serta pertumbuhan perusahaan. Implikasinya sangat konkret bagi dunia kerja.
Seorang pekerja yang bekerja delapan jam sehari belum tentu lebih produktif daripada pekerja yang menyelesaikan pekerjaan dalam enam jam. Yang menentukan bukan semata durasi, melainkan nilai keluaran dibandingkan sumber daya yang digunakan.
Karena itu, budaya kerja yang mengagungkan lembur tanpa mengukur hasil perlu ditinjau ulang. BPS sendiri membedakan pekerja penuh waktu, paruh waktu, dan setengah pengangguran. Pada Agustus 2025, pekerja penuh waktu mencapai 67,32 persen, sementara pekerja paruh waktu 24,77 persen dan setengah pengangguran 7,91 persen.
Angka ini menunjukkan betapa beragamnya kondisi pasar kerja Indonesia; karena itu, kebijakan produktivitas tidak dapat disederhanakan menjadi tuntutan agar semua orang bekerja lebih lama.
Produktivitas yang sehat justru menuntut pertanyaan yang lebih sulit: pekerjaan apa yang menghasilkan nilai, proses mana yang membuang waktu, keterampilan apa yang kurang, teknologi apa yang benar-benar dibutuhkan, dan bagaimana kinerja dapat diukur secara adil?
Memahami Manusia
Pertanyaan-pertanyaan tadi membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir lintas disiplin. Dunia usaha membutuhkan orang yang memahami angka, tetapi juga memahami manusia. Memahami data, tetapi juga mampu membaca perilaku organisasi. Mampu menggunakan teknologi, tetapi mengerti bahwa teknologi hanyalah alat untuk mencapai tujuan.
Karena itu, pendidikan manajemen tidak seharusnya berhenti pada hafalan teori fungsi perusahaan. Pembelajaran perlu semakin dekat dengan persoalan nyata mengenai bagaimana membaca laporan keuangan, menyusun indikator kinerja, menganalisis data, mengelola risiko, memahami konsumen, membangun usaha, dan mengambil keputusan ketika informasi tidak sempurna.
Dalam konteks tersebut, STIE Hidayatullah terus berinovasi menuju visi sebagai salah satu institusi pendidikan yang menempatkan ilmu ekonomi, khususnya manajemen dan akuntansi, sebagai bagian dari proses pembentukan sumber daya manusia.
Dalam profil resminya, STIE Hidayatullah menyebut pengembangan pembelajaran ekonomi, penelitian yang implementatif, serta pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari misinya.
Arah seperti ini penting karena ekonomi membutuhkan lulusan yang tidak hanya mampu mencari pekerjaan, tetapi juga memahami bagaimana pekerjaan dan organisasi menciptakan nilai.
Tentu, manajemen berbasis data bukan berarti menjadikan manusia sekadar angka dalam spreadsheet. Justru sebaliknya. Data seharusnya membantu organisasi memahami persoalan manusia dengan lebih baik: beban kerja, kebutuhan pelatihan, produktivitas, kualitas pelayanan, kepuasan pelanggan, hingga peluang pengembangan karier.
Tantangan terbesar ke depan bukan kekurangan data. Kita justru berhadapan dengan kelimpahan data. Persoalannya adalah kemampuan memilih data yang relevan, mengujinya, menerjemahkannya menjadi informasi, lalu mengubah informasi menjadi keputusan.
Bekerja Lebih Efektif
Insitusi baik bisnis maupun nirlaba tidak akan meningkatkan produktivitas hanya dengan meminta pekerja bekerja lebih keras. Produktivitas tumbuh ketika modal, teknologi, waktu, keterampilan, dan tenaga manusia ditempatkan dalam sistem yang membuat semuanya bekerja lebih efektif.
Maka ukuran kemajuan organisasi seharusnya perlahan bergeser dari siapa yang paling sibuk menuju siapa yang paling mampu menciptakan nilai serta beralih dari berapa lama seseorang bekerja menuju apa yang dihasilkan dan dari keputusan berdasarkan intuisi semata menuju keputusan yang dapat diuji dengan data.
Sebab, dalam ekonomi yang semakin kompleks, bekerja keras tetap penting. Tetapi tanpa manajemen yang baik, kerja keras dapat menjadi sekadar biaya.
Manajemenlah yang mengubah kerja menjadi kinerja, data menjadi keputusan, dan sumber daya yang terbatas menjadi produktivitas yang menciptakan nilai. (adm/cha)
******
MAU DAFTAR DI PROGRAM STUDI MANAJEMEN STIE HIDAYATULLAH? Hubungi WA Center 085211865522 jika Anda membaca berita ini dari handphone, atau klik di sini.






