Ramadhan dan Manifestasi Tri Dharma Perguruan Tinggi STIE Hidayatullah

PENGKARYAAN di berbagai lini yang dijalani mahasiswa STIE Hidayatullah dalam program pengabdian masyarakat selama bulan suci Ramadhan bukan sekadar agenda akademik rutin, melainkan manifestasi konkret dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Seperti diketahui, 3 hari sebelum memasuki bulan suci Ramadhan 1447, STIE Hidayatullah melakukan pembekalan dan penugasan pengabdian mahasiswa di masyarakat. Pengabdian selama sebulan penuh ini tidka lepas dari spirit Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Tri Dharma, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, adalah fondasi filosofis yang menempatkan perguruan tinggi sebagai institusi pembentuk peradaban. Dalam konteks Ramadhan, pengabdian masyarakat memperoleh dimensi yang lebih dalam, karena ia tidak hanya menyentuh aspek sosial, tetapi juga aspek spiritual dan psikologis mahasiswa.

Pengabdian masyarakat selama Ramadhan mempertemukan mahasiswa dengan realitas sosial secara langsung. Mereka tidak lagi berada dalam ruang teoritis, tetapi dalam ruang kehidupan nyata, di mana masyarakat menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan spiritual.

Interaksi ini membentuk kesadaran sosial yang tidak dapat diperoleh hanya melalui ruang kelas. Pendidikan tinggi yang terpisah dari realitas sosial berisiko melahirkan individu yang cakap secara intelektual, tetapi terasing secara sosial.

Fenomena keterasingan ini semakin relevan ketika melihat kondisi generasi muda saat ini. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 15 persen remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi (anxiety).

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sekitar 9,8 persen penduduk usia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dengan prevalensi lebih tinggi pada kelompok usia muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa generasi muda menghadapi tekanan psikologis yang signifikan.

Kecemasan dan kecenderungan anti sosial tidak muncul dalam ruang hampa. Ia berkaitan erat dengan perubahan struktur sosial dan ekonomi. Generasi muda hidup dalam lingkungan yang ditandai oleh kompetisi tinggi, ketidakpastian ekonomi, dan interaksi sosial yang semakin dimediasi oleh teknologi digital.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia mencapai lebih dari 78 persen populasi, dengan kelompok usia 15–24 tahun sebagai pengguna paling dominan. Intensitas penggunaan teknologi digital yang tinggi berkorelasi dengan berkurangnya interaksi sosial langsung, yang berkontribusi pada meningkatnya perasaan isolasi sosial.

Dalam konteks ini, pengabdian masyarakat selama Ramadhan memiliki fungsi terapeutik sekaligus edukatif. Mahasiswa yang terlibat dalam aktivitas sosial mengalami rekoneksi dengan realitas sosial yang konkret. Mereka berinteraksi dengan masyarakat, memahami kebutuhan riil, dan berkontribusi secara langsung. Interaksi ini membangun empati, yang merupakan fondasi kesehatan psikologis dan sosial.

Madrasah Pengendalian Diri

Ramadhan sendiri adalah ruang refleksi yang dimaknai sebagai sekolah (madrasah) untuk membentuk pengendalian diri. Puasa melatih individu untuk mengendalikan dorongan biologis, emosional, dan psikologis. Kemampuan mengendalikan diri merupakan faktor penting dalam kesehatan mental. Individu dengan tingkat pengendalian diri yang tinggi memiliki kemampuan lebih baik dalam mengelola stres dan kecemasan.

Pengendalian diri juga memiliki dimensi ekonomi. Dalam teori ekonomi perilaku, kemampuan menunda kepuasan merupakan indikator rasionalitas ekonomi. Individu yang mampu mengendalikan konsumsi memiliki kapasitas lebih besar untuk menabung dan berinvestasi. Sebaliknya, individu yang impulsif cenderung mengalami ketidakstabilan ekonomi.

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa literasi keuangan masyarakat Indonesia masih berada pada tingkat yang perlu ditingkatkan, terutama di kalangan generasi muda. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan tahun 2022 mencatat indeks literasi keuangan sebesar 49,68 persen, yang berarti hampir separuh masyarakat belum memiliki pemahaman memadai tentang pengelolaan keuangan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pembentukan kesadaran ekonomi sejak masa pendidikan tinggi.

Pengabdian masyarakat memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami ekonomi dalam konteks nyata. Mereka melihat bagaimana masyarakat mengelola sumber daya terbatas, bagaimana usaha kecil bertahan, dan bagaimana solidaritas sosial menjadi mekanisme bertahan hidup. Pengalaman ini membentuk perspektif ekonomi yang lebih realistis dan bertanggung jawab.

Ramadhan memperkuat proses ini. Selama Ramadhan, aktivitas ekonomi masyarakat meningkat, terutama pada sektor usaha mikro dan kecil. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia, dengan kontribusi lebih dari 50 persen. Mahasiswa yang terlibat dalam masyarakat selama Ramadhan dapat melihat secara langsung dinamika ini, memahami hubungan antara konsumsi, produksi, dan kesejahteraan masyarakat.

Lebih dari itu, pengabdian masyarakat membentuk identitas mahasiswa sebagai bagian dari umat, bukan sekadar individu. Identitas kolektif ini penting dalam membangun kohesi sosial. Generasi muda yang terhubung dengan masyarakat memiliki tingkat kesehatan mental yang lebih baik dibanding mereka yang terisolasi secara sosial.

Tri Dharma Perguruan Tinggi menempatkan pengabdian masyarakat sebagai pilar yang setara dengan pendidikan dan penelitian. Ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter. Karakter yang dibentuk melalui pengabdian masyarakat adalah karakter yang berempati, bertanggung jawab, dan sadar sosial.

Integrasi Ibadah Ritual dan Ibadah Sosial

Islam memandang bahwa pengabdian masyarakat dalam kerangka hablum minannas (hubungan antarmanusia) dan tolong-menolong (ta’awun) adalah bagian dari ibadah. Islam tidak memisahkan antara ibadah ritual dan ibadah sosial.

Aktivitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat memiliki nilai spiritual. Ramadhan memperkuat dimensi ini, karena ia adalah bulan di mana nilai solidaritas dan kepedulian sosial memperoleh penekanan yang lebih besar.

Mahasiswa yang terlibat dalam pengabdian masyarakat selama Ramadhan mengalami integrasi antara pendidikan, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Integrasi ini penting dalam membentuk individu yang utuh. Individu yang utuh tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan bertanggung jawab secara sosial.

Di tengah meningkatnya kecemasan dan keterasingan generasi muda, pengabdian masyarakat menjadi mekanisme penting untuk membangun koneksi sosial. Ia mengembalikan mahasiswa pada realitas bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat. Ia mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang pencapaian individu, tetapi juga tentang kontribusi kolektif.

Ramadhan memberikan konteks spiritual bagi proses ini. Ia mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan kesadaran. Nilai-nilai ini tidak hanya penting secara spiritual, tetapi juga penting secara sosial dan ekonomi. Individu yang sabar, disiplin, dan sadar memiliki kapasitas lebih besar untuk membangun kehidupan yang stabil dan bermakna.

Penugasan mahasiswa STIE Hidayatullah dalam pengabdian masyarakat selama Ramadhan adalah langkah strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berintegritas. Ini adalah investasi dalam pembangunan manusia.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukan hanya tentang menghasilkan lulusan, tetapi tentang membentuk manusia. Ramadhan mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk ekonomi, tetapi juga makhluk moral dan spiritual. Kesadaran berislam harus tercermin dalam kesadaran bermuamalah.

Mahasiswa yang memahami nilai Ramadhan tidak hanya menjadi individu yang saleh secara ritual, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan ekonomi. Inilah fondasi peradaban yang berakar pada ilmu, pengabdian, dan kesadaran spiritual yang autentik.

*) Mhd Zuhri Fadhlullah, SE., penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok

Bagikan:

Related Post