Dialog Kebangsaan dan Tanggung Jawab Intelektual Generasi Muda

Dialog Kebangsaan dan Doa Bersama yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIE Hidayatullah bersama Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) pada Jumat (27/9/2025), menjadi ruang refleksi serius bagi mahasiswa dalam membaca arah perjalanan bangsa. Kegiatan yang berlangsung di Aula Abdullah Said STIE Hidayatullah tersebut diikuti sekitar 100 mahasiswa dari berbagai latar belakang minat dan disiplin kajian.

Forum ini menjadi upaya intelektual untuk mempertemukan kegelisahan mahasiswa dengan tanggung jawab kebangsaan yang semakin kompleks. Dukungan dari D’Besto dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) sebagai sponsor menegaskan bahwa agenda kebangsaan membutuhkan sinergi lintas elemen, termasuk dunia pendidikan, filantropi, dan pelaku usaha.

Sejumlah tokoh dihadirkan sebagai narasumber untuk memperkaya perspektif dialog. Imam Nawawi, S.Pd.I, M.Pd.I, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah periode 2020–2023, menekankan pentingnya konsistensi nilai dalam gerakan mahasiswa.

Sementara itu, Rasfiuddin Sabarudin, MIRK, selaku Wakil Ketua III STIE Hidayatullah, memotret posisi mahasiswa sebagai bagian dari ekosistem akademik yang tidak boleh terpisah dari realitas sosial.

Hadir pula Haniffudin Chaniago, SE dari Karang Taruna, serta Suhardi Sukiman, S.Th.I, M.Pd, Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah periode 2017–2020, yang menyoroti kesinambungan peran pemuda dalam sejarah perubahan bangsa.

Dalam diskusi tersebut, mahasiswa diposisikan bukan semata sebagai agen perubahan, tetapi sebagai agen kebenaran. Penekanan ini menjadi penting di tengah kecenderungan pragmatisme politik dan banalitas wacana publik. Mahasiswa diajak untuk kritis, namun tetap berpijak pada nilai yang diyakini benar, sehingga kritik tidak kehilangan arah dan perubahan tidak tercerabut dari etika.

Dialog kebangsaan ini juga mengaitkan peran mahasiswa dengan visi Indonesia Emas 2045. Para narasumber sepakat bahwa bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila generasi mudanya memiliki integritas intelektual, keberanian moral, serta kesiapan berkontribusi secara nyata. Tanpa itu, momentum sejarah justru berpotensi berubah menjadi beban struktural bagi bangsa.

Rangkaian acara dilengkapi dengan doa bersama sebagai ekspresi spiritual atas kegelisahan sosial dan politik yang dihadapi Indonesia. Doa tersebut menjadi simbol harapan agar persatuan nasional tetap terjaga, masyarakat terhindar dari polarisasi, dan bangsa ini mampu menghadapi berbagai tekanan dengan ketenangan serta kebijaksanaan kolektif.

Ketua Umum PP GMH, Rizki Ulfahadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap kondisi bangsa, memperkuat rasa kebangsaan, serta meneguhkan kembali peran mahasiswa sebagai pelopor perubahan yang konstruktif di tengah masyarakat.

Pada titik inilah peran STIE Hidayatullah menemukan relevansinya. Sebagai institusi pendidikan tinggi, STIE Hidayatullah tidak hanya memproduksi lulusan yang kompeten secara ekonomi dan manajerial, tetapi juga membentuk watak kepemimpinan yang berakar pada nilai kebangsaan dan moralitas publik.

Melalui ruang-ruang dialog seperti ini, kampus menegaskan posisinya sebagai lokomotif pembangunan manusia Indonesia, yang berpikir tajam, bertindak etis, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa. (din/adm)

Bagikan:

Related Post