Wednesday 22nd November 2017

Kurikulum

Dalam melaksanakan Program Pendidikan, STIE Hidayatullah Depok menempatkan dirinya di dalam Sistem Pendidikan Nasional melalui tata kehidupan kampus yang dijadikan wadah Masyarakat Ilmiah yang berbudaya dan bertujuan menghasilkan manusia-manusia bermoral dan berkepribadian Indonesia melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara mantap sehingga mampu menguasai dan mengembangkan pengetahuan, teknologi dan seni dengan kriteria profil seperti dikemukakan pada bab terdahulu. Rumusan Profil Lulusan STIE Hidayatullah Depok di atas dijabarkan lebih terperinci pada masing-masing bidang yang diasuh melalu kegiatan-kegiatan yang disajikan kepada mahasiswa dan lazimnya disebut sebagai kurikulum.

2). Kurikulum masing-masing Jurusan/Program Studi pada akhirnya harus mampu mendukung pola lulusan STIE Hidayatullah Depok. Kurikulum merupakan segala kegiatan dan pengalaman belajar yang dirancang programkan dan diselenggarakan oleh masing-masing Jurusan/Program Studi sesuai dengan bidangnya untuk mencapai pola perilaku dan pola kemampuan yang harus dimiliki para lulusan.

3). Sesuai dengan Rancangan Program maka STIE Hidayatullah Depok diharapkan mampu menghasilkan tenaga-tenaga S1 sesuai dengan Jurusan dan Program Studinya masing-masing, hal mana berarti pula bahwa Program Pendidikan memang diorentasikan kepada kebutuhan ketenagaan yang nyata di lapangan dan masyarakat.

4). Salah satu konsekuensi dari keadaan ini adalah STIE Hidayatullah Depok menjadikan perangkat kompetensi yang dipersyaratkan lapangan kerja sebagai sumber sekaligus muara dalam mengembangkan dan menyelengarakan seluruh Program Pendidikannya. Kompetensi-kompetensi dimaksud bersifat Kognitif, Afektif dan Psikomotorik. Pendekatan kompetensi pada masing-masing Jurusan dan Program Studinya pada akhirnya harus pula memberi tempat yang sangat penting kepada masalah Accountability, dalam artian bahwa kebutuhan konsumen merupakan kriteria terakhir di dalam menetapkan keberhasilan Program. Hal ini berarti bahwa, para mahasiswa hanya dapat dilepaskan sebagai lulusan apabila telah benar-benar diyakini kompetensinya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni sesuai dengan bidangnya masing-masing.

5). Pendekatan kompetensi itu menuntut bahwa pengalaman belajar mengajar yang disajikan dikelompokkan menjadi 3 kategori yang disajikan secara:

  1. Teoritis dalam bentuk ceramah dan bentuk-bentuk lain yang bersifat experimental maupun yang bersifat penemuan oleh mahasiswa;
  2. Diskusi Kasus untuk penguasaan keterampilan dalam memecahkan Persoalan Bisnis;
  3. Latihan sebagai pengalaman lapangan sesuai dengan bidang spesialisasi masing-masing yang merupakan kesempatan untuk Praktek Lapangan dan menerapkan pengetahuan serta keterampilan yang telah diperoleh dalam konteks yang wajar.

6). Dalam rangka menunjang tercapainya kompetensi dan profil seperti yang diharapkan itu maka Kurikulum pada Jurusan dan Program Studinya masing-masing disusun dengan berpedoman pada Kurikulum Inti Program Pendidikan sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, juga harus pula diselaraskan dengan kebutuhan nyata di pasaran tenaga kerja atau kebutuhan masyarakat pada umumnya. Dengan dasar pertimbangan di atas, maka Struktur Kurikulum diarahkan pada tujuan masing-masing, yaitu: menghasilkan manusia bermoral dan bertakwa yang memiliki kemampuan akademik serta menguasai satu bidang tertentu dengan spesialisasi satu disiplin ilmu tertentu sesuai Bidang Studinya.

7). Profil, harapan kompetensi dan tujuan Program seperti disebutkan diatas menuntut suatu Struktur Program yang didasarkan pada Hasil Analisis Tugas (Task Analysis) dan Peranan ( Role Expectations) Lulusan, yang artinya bahwa lulusan yang dihasilkan harus mampu mengintegrasikan pengetahuan yang diperlukan untuk menunjang penampilannya, sehingga “By Design” Kurikulum harus dan berdasarkan prinsip pendekatan itu maka pengelompokan Mata Kuliah diusahakan agar saling menunjang yaitu pendekatan Interdispliner yang diarahkan kepada pengadaan dan perbaikan penampilan sehingga sifat Integrative dari Kurikulum terjamin dengan suatu masa studi yang terbatas.

8). Struktur Kurikulum pada Jurusan/Program Studi masing-masing pada dasarnya dikelompokkan kedalam Komponen Dasar Umum, Komponen Bidang Studi dan Komponen Proses Belajar dengan arah dan tujuan yang saling menunjang, yaitu:

  1. Komponen Dasar Umum diarahkan kepada pembentukan Warga Negara pada umumnya, yang meliputi Komponen Personal, Sosial, serta Cultural yang seyogyanya merupakan ciri khas Warga Negara yang berkesempatan mengenyam Pendidikan Tinggi, sekaligus diharapkan membentuk “filosofi” lulusan dalam arti memberi “citra” yang akan mewarnai sepak terjangnya dari hari ke hari di dalam mengintegrasikan Teori Dasar Praktek. Membentuk sikap dan melaksanakan tugas pengetahuan ini disebut sebagai tugasnya humanistic skill yang disajikan dalam kelompok MKDU.
  2. Komponen Bidang Studi diarahkan untuk memberi isi yang akan diajarkan baik yang telah dispesifikasikan di dalam kKurikulum maupun yang berupa pengayaan dan atau pendalaman. Oleh karena itu maka dua sasaran komponen ini adalah penguasaan tuntas Materi Kurikulum yang dimaksud sehingga rambu utama di dalam pemberian adalah Kompetensi Profesional bukan penguasaan disiplin semata-mata yang disajikan dalam Kelompok MKDK, MKK, dan MKP.
  3. Komponen Proses Belajar Mengajar merupakan titik temu antara isi dan metode. Komponen ini mengacu pada penguasaan konsep-konsep, prinsip-prinsip, serta teknik-teknik yang berlaku pada umumnya yang terikat erat dengan studi tertentu.

9). Pengelolaan seluruh Program Akademik yang dirancang, seluruhnya diselengarakan atas dasar Sistem kredit Semester (SKS). Sistem ini dipiih karena memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut:

  1. Standarisasi yang lebih mudah terhadap Beban Studi untuk Program yang sejenis karena dapat ditentukan Jumlah Jam Semester yang harus diperoleh setiap mahasiswa untuk menyelesaikan suatu Program.
  2. Karena Unit Beban Studi tersebut sudah diseragamkan, maka para mahasiswa suatu Jurusan/Program Studi dapat mengambil Program yang bervariasi. Keseragaman Unit Pengukur ini juga sangat membantu dalam menyelesaikan masalah Pindah Jalur dan Program untuk studi lanjutan.
  3. Program yang bervariasi mengharuskan mahasiswa memilih beberapa alternatif, kombinasi-kombinasi Mata Kuliah tertentu atau Mata Kuliah Minor yang lebih sesuai dengan minat dan perencanaan karirnya.
  4. Program yang bervariasi mengharuskan mahasiswa lebih efektif dalam menyusun rencana studinya sendiri.
  5. Sistem Semester megharuskan Dosen dan Mahasiswa menjadi disiplin, karena pada akhirnya Semester sudah harus ada ketentuan tentang lulus dan gagalnya.

10). Dalam usaha mencapai Pola Perilaku dan Pola Kemampuan yang harus dimiliki lulusan melalui Rumusan Kompetensi (Role Expectation)dan Penyelenggaraan yang didasarkan pada Sistem Kredit Semester (SKS), maka Rancangan Kurikulum untuk Program strata satu (S1) diselenggarakan dengan total SKS adalah 144-160 SKS, dengan masa studi 8 sampai dengan 14 semester.

11). Melalui Pembagian Mata Kuliah yang ada dalam lingkungan STIE Hidayatullah Depok maka kualitas lulusannya akan berbeda-beda tingkatannya. Hal ini harus dilihat sebagai suatu karakteristik yang sehat bagi Lembaga Pendidikan Tinggi di lingkungan STIE Hidayatullah Depok.