Diskusi Mahasiswa STIE Hidayatullah Depok

Diskusi Mahasiswa STIE Hidayatullah Depokby Ali Mufrodon.Diskusi Mahasiswa STIE Hidayatullah DepokDalam Terjemahan Al-Quran terbitan Departemen Agama dalam Surat Ali Imran Ayat 159 disebutkan : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (*). Kemudian […]

Dalam Terjemahan Al-Quran terbitan Departemen Agama dalam Surat Ali Imran Ayat 159 disebutkan :

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (*). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.

(*) Maksudnya : urusan yang berkaitan dengan hal-hal duniawi, seperti urusan dakwah, peperangan, politik, kemasyarakatan dan lain-lainya.

Pada ayat di atas disebutkan petunjuk sikap yang diperintahkan untuk dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi umatnya, khususnya ketika bermusyawarah. Walaupun secara redaksional perintah tersebut disematkan kepada Nabi SAW, namun pesan yang terdapat pada ayat tersebut bisa berlaku umum bagi setiap orang islam yang melakukan musyawarah. Diisyaratkan pada ayat tersebut mengenai sikap yang harus dilakukan untuk mensukseskan musyawarah, sifat atau sikap tersebut yaitu sebagai berikut.

 

  1. Lemah Lembut

Seseorang yang melakukan musyawarah, apalagi sebagai pemimpin, harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak, maka orang yang diajak musyawarah tidak akan menyukainya dan akan lebih suka pergi menghindar.

2. Pemaaf

Maaf, secara harfiah, berarti “menghapus”. Memaafkan adalah menghapus bekas luka di hati akibat perlakuan pihak lain yang pernah melukai fisik atau perasaan. Sifat pemaaf dan sikap memaafkan dalam musyawarah sangat diperlukan karena tiada musyawarah tanpa pihak lain, sedangkan kejernikahan pikiran bisa hadir bersamaan dengan hilangnya kekeruhan hati.

Di sisi lain, orang yang bermusyawarah harus menyiapkan mental untuk selalu bersedia memberi maaf. Karena mungkin saja ketika bermusyawarah terjadi perbedaan pendapat, atau keluar kalimat-kalimat yang menyinggung pihak lain. Dan bila hal  itu masuk ke dalam hati, maka akan mengeruhkan pikiran, bahkan boleh jadi akan mengubah musyawarah menjadi pertengkaran.

3. Meminta Ampunan Allah

Orang yang melakukan musyawarah harus menyadari kecerahan atau ketajaman pemikiran, serta analisis akal saja tidaklah cukup. Artinya, hasil pemikiran akal tidak boleh menghasilkan keputusan yang bisa melanggar aturan Allah SWT.

Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang terbaik ketika musyawarah, hubungan dengan Allah pun harus dijaga. Itulah sebabnya, hal ketiga yang harus mengiringi musyawarah adalah permohonan maghfirah dan ampunan Allah bagi peserta musyawarah.

4. Membulatkan Tekad untuk melaksanakan hasil musyawarah dan bertawakal

Pesan terakhir ayat tersebut di dalam konteks musyawarah adalah setelah musyawarah usai dan telah terwujud hasil kesepakatan bersama, maka hendaknya setiap peserta musyawarah bertekad bulat untuk melaksanakan hasil musyawarah kemudian bertawakal atau berserah diri kepada Allah.

Bertawakal artinya menyandarkan diri sepenuhnya hanya kepada ketentuan Allah SWT. Hal ini dilakukan setelah mengerahkan semua daya dan upaya semaksimal mungkn, misalnya dengan mengerahkan segenap kemampuan, harta dan usaha. Setelah semua dilakukan, maka kita harus bertawakal dan berdoa menunggu datangnya pertolongan Allah dengan sabar dan penuh pengharapan.

Author: 

Related Posts